Selasa 06 Oct 2026 15:25 WIB

Nikmat Sering Baru Terasa Setelah Allah Mencabutnya

Barang siapa yang mengingkari-Nya, maka azab-Nya sangat pedih.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Seorang jamaah asal Banten bersujud syukur setibanya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah.
Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Seorang jamaah asal Banten bersujud syukur setibanya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Manusia terkadang baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah kehilangan nikmat tersebut. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengingatkan bahwa orang yang tidak mampu mengenali nikmat saat memilikinya akan menyadari nilainya ketika nikmat itu telah menghilang.

"Siapapun yang tidak mampu mengenal keberadaan nikmat maka ia akan mengenal ketika nikmat itu menghilang." (Syekh Ibnu Athaillah, Al-Hikam)

Baca Juga

Jika kamu mendapatkan berbagai kenikmatan dari Allah SWT, seperti nikmat mendapatkan harta, kesehatan, keluarga, dan lain sebagainya, tapi kamu tidak mensyukurinya, maka kamu akan menyesalinya ketika semuanya hilang dari genggaman kamu, demikian dijelaskan Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc.

Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Alquran al-Karim bahwa barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya maka Dia akan menambahnya. Barang siapa yang mengingkari-Nya, maka azab-Nya sangat pedih.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Wa iż ta'ażżana rabbukum la'in syakartum la'azīdannakum wa la'in kafartum inna ‘ażābī lasyadīd(un).

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim Ayat 7)

Sebagai contoh, ketika kamu memiliki kendaraan sepeda motor, kamu belum mengenal nilainya, sehingga kamu lalai bersyukur, bahkan mengharapkan yang lebih baik lagi yaitu mobil. Namun, ketika sepeda motor kamu rusak, sehingga kamu harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer, maka kamu akan merasakan nikmatnya sepeda motor. Bahkan, kamu akan mengharapkan sesuatu yang lebih rendah tingkatannya, misalnya sepeda. Asalkan kamu tidak berjalan kaki, mengayuh pun tidak ma­salah.

Penyesalan selalu berada di akhir peristiwa. Sedangkan nikmat baru terasa ketika tiada. Ingatlah hal itu baik-baik, dan jangan lupa untuk selalu bersyukur.

photo
Infografis taubat - (Dok Republika)

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi