REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Agama (Menag) RI, Prof Nasaruddin Umar mengajak sivitas akademika dan alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk melakukan pembacaan ulang terhadap Alquran secara lebih mendalam. Menurut dia, pemahaman terhadap Alquran tidak cukup berhenti pada makna tekstual, tetapi harus sampai pada dimensi batin dan hakikat yang terkandung di dalamnya.
"Sudah saatnya kita sekarang ini membaca ulang Alquran. Mari kita lebih mendalami," ujar Nasaruddin saat memberikan sambutan pada seminar Nasional yang digelar Forum Nasional Ikatan Keluarga Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (FN IKA PTKIN) di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia mengatakan, selama ini pembelajaran Alquran di lingkungan PTKIN masih banyak berfokus pada aspek ibaratil Qur'an atau makna lahiriah teks. Padahal, menurut dia, tradisi keilmuan Islam mengenal tingkatan pemahaman yang lebih dalam.
"Ada ibaratil Qur'an, kemudian isyaratil Qur'an. Kalau perlu kita masuk lathaiful Qur'an, yaitu penjiwaan makna batin Alquran. Bahkan puncaknya adalah haqaiqul Qur'an" ucapnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini menjelaskan, seorang lulusan PTKIN semestinya mampu memahami Alquran bukan sekadar sebagai Kitabullah, melainkan juga sebagai Kalamullah yang hidup dan memberi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
"Jangan hanya kita paham Alquran sebagai Kitabullah. Itu semua orang bisa. Harusnya kita sebagai alumni UIN mampu juga membaca Alquran sebagai Kalamullah," katanya.
Nasaruddin menambahkan, pendalaman terhadap Alquran akan melahirkan pemahaman yang lebih utuh terhadap pesan-pesan ilahi sehingga dapat menjadi fondasi dalam membangun peradaban Islam yang maju sekaligus berakhlak.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengutip pandangan ulama sufi sekaligus mufasir asal Maroko, Ibnu Ajibah, mengenai pentingnya adab sebelum mengonsumsi "makanan", baik makanan jasmani maupun rohani.
Menurut Nasaruddin, Ibnu Ajibah membagi makanan menjadi dua, yakni makanan lahir berupa nasi, buah, minuman, dan makanan batin berupa ilmu pengetahuan serta zikir.
"Baik makanan lahir maupun makanan rohani jangan dikonsumsi sebelum membaca Bismillahirrahmanirrahim," ujarnya.
Ia menilai, kebiasaan membaca basmalah selama ini lebih banyak diajarkan ketika seseorang hendak makan, tetapi belum menjadi budaya ketika seseorang akan membaca buku atau menuntut ilmu.
"Selama ini kita mengajarkan anak-anak jangan makan dulu sebelum membaca basmalah. Tetapi begitu membaca buku, sering kali tidak ada basmalahnya," kata Nasaruddin.
Menurut dia, membaca basmalah sebelum mencari ilmu bukan sekadar melafalkan kalimat tersebut, melainkan menghadirkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT sebelum menerima pengetahuan.
"Bagaimana caranya membaca basmalah? Bukan sekadar komat-kamit mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, tetapi menghadirkan Yang Maha Memiliki Nama di hadapan kita. Baru kita mengonsumsi ilmu. Itulah yang akan melahirkan berkah," jelas Nasaruddin.