Senin 27 Apr 2026 18:07 WIB

Solidaritas Global Menguat,  Bantuan untuk Gaza Dikirim Lewat Laut dan Darat

Solidaritas global masih menjadi kekuatan penting dalam merespons krisis kemanusiaan.

Relawan yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia bersama aktivis dari negara lain memberikan konferensi pers di pelabuhan Barcelona, Spanyol, Sabtu (11/4/2026) waktu setempat. Sebanyak 70 kapal  Armada Global Sumud Flotilla yang membawa sekitar 1.000 aktivis dari sekitar 70 negara, bersiap melakukan misi pelayaran kemanusiaan menuju Gaza.
Foto: EPA/MARTA PEREZ
Relawan yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia bersama aktivis dari negara lain memberikan konferensi pers di pelabuhan Barcelona, Spanyol, Sabtu (11/4/2026) waktu setempat. Sebanyak 70 kapal Armada Global Sumud Flotilla yang membawa sekitar 1.000 aktivis dari sekitar 70 negara, bersiap melakukan misi pelayaran kemanusiaan menuju Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Krisis kemanusiaan di Gaza terus berlangsung dan memicu respons global yang kian meluas. Berbagai inisiatif lintas negara bermunculan untuk menjaga distribusi bantuan sekaligus memastikan isu ini tetap menjadi perhatian publik.

Salah satu inisiatif itu muncul melalui misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang melibatkan berbagai elemen sipil internasional, termasuk DT Peduli. Misi ini menggabungkan pengiriman bantuan dan upaya membuka akses kemanusiaan bagi warga Gaza yang masih menghadapi keterbatasan akibat blokade.

Baca Juga

Executive Director DT Peduli Jajang Nurjaman mengatakan, keterlibatan dalam misi ini menjadi ikhtiar kolektif lintas negara. “Kondisi Palestina saat ini masih berada dalam situasi blokade yang panjang. Melalui gerakan global seperti ini, kami ingin mengambil bagian dalam upaya kemanusiaan, baik melalui jalur laut maupun darat,” ujar Jajang dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Distribusi bantuan dalam misi ini dilakukan melalui dua jalur, yakni armada laut yang membawa relawan internasional dan jalur darat untuk pengiriman logistik. Bantuan mencakup kebutuhan medis, pangan, hingga perlengkapan darurat yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Keterlibatan Indonesia terlihat melalui pengiriman relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga medis, tim media, hingga koordinator lapangan. Ketua Yayasan DT Peduli M. Bascharul Asana mengatakan, partisipasi tersebut mengandung tanggung jawab besar. “Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi amanah. Kami berpesan agar para relawan senantiasa menjaga niat, serta membawa nama baik Indonesia dalam setiap peran yang dijalankan,” kata Bascharul.

Selain distribusi bantuan, misi ini juga menyoroti pentingnya menjaga perhatian publik terhadap isu kemanusiaan di Palestina. Director of Impact and Civilization DT Peduli Fahrizal Amir mengatakan, setiap kontribusi tetap memiliki arti dalam gerakan kolektif. “Palestina adalah amanah bagi kita semua. Sekecil apa pun ikhtiar yang dilakukan, baik itu berbagi informasi, berdonasi, atau terlibat langsung, tetap memiliki arti,” ujar Fahrizal.

Ia menambahkan, dukungan publik menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan kemanusiaan. “Hayu kita terus suarakan Palestina. Jangan sampai narasi ini berhenti,” kata Fahrizal.

Relawan yang terlibat juga melihat misi ini sebagai upaya menjaga harapan di tengah keterbatasan. Muhammad Ihsan, salah satu relawan, mengatakan pengalaman tersebut tidak hanya soal distribusi bantuan. “Setiap langkah ini bukan hanya tentang mengirimkan bantuan, tetapi juga tentang menjaga harapan dan memastikan bahwa solidaritas itu benar-benar sampai,” tuturnya.

Melalui misi ini, kolaborasi lintas negara kembali menegaskan bahwa solidaritas global masih menjadi kekuatan penting dalam merespons krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement