Selasa 07 Apr 2026 18:58 WIB

Hadapi Israel, Gus Ulil Minta Umat tak Terpecah Perdebatan Suni-Syiah

Eskalasi konflik yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari upaya Israel.

Rep: Muhyiddin,/ Red: A.Syalaby Ichsan
Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil
Foto: nu
Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla mengingatkan umat Islam agar tidak terpecah oleh perdebatan Suni-Syiah di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran.

Menurut dia, isu perbedaan mazhab justru berpotensi dimanfaatkan pihak tertentu untuk melemahkan kekuatan dunia Islam secara keseluruhan.”Kita tidak ingin masyarakat Muslim terpecah belah karena isu Suni-Syiah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ulil saat ditemui di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga

Ia menegaskan, seluruh negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama, terlepas dari perbedaan manhaj maupun ideologi keagamaan.

Karena itu, menurut dia, yang lebih penting saat ini adalah membangun persatuan untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai kesewenang-wenangan Israel terhadap Iran.“Semua adalah sesama negara Islam dan kita perlu bersatu untuk melawan kesewenang-wenangan negara Zionis yaitu Israel,”kata dia.

Gus Ulil menilai, eskalasi konflik yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari upaya strategis Israel untuk memecah belah negara-negara Muslim. Dia bahkan menyebut tanda-tanda perpecahan itu mulai terlihat di kawasan Timur Tengah.

“Tampaknya tujuan besar yang ingin dicapai oleh Israel dengan serangan ini adalah sebetulnya ingin menimbulkan perpecahan di antara sesama negara muslim sendiri dan itu sudah terjadi sekarang,”kata Gus Ulil.

photo
Warga Iran memeluk foto Ayatollah Ali Khamenei saat berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, Ahad (1/3/2026), untuk mengekspresikan duka cita atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran itu. Khamenei tewas dalam serangan udara militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2). - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement