Selasa 31 Mar 2026 07:50 WIB

Abu Nawas, Sang Sufi Jenaka dari Abbasiyah

Nama Abu Nawas masyhur di dunia Islam hingga Nusantara.

ILUSTRASI Abu Nawas
Foto: Wikipedia
ILUSTRASI Abu Nawas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah seorang sastrawan terkemuka yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Abu Nawas (756-814 M). Nama aslinya ialah Abu-Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Profilnya kerap muncul dalam buku-buku klasik Arab, semisal Alf layla wa-layla (Seribu Satu Malam).

Dalam bahasa Arab, pelafalan namanya yang tepat adalah Abu Nuwas. Namun, sebutan Abu Nawas tampaknya lebih populer, termasuk di Indonesia.

Baca Juga

Tokoh ini begitu tersohor, bahkan hingga masa modern kini, sebagai seorang penyair-sufi yang bijaksana, tetapi juga kocak. Dalam hal ini, Abu Nawas mirip dengan Nashrudin Hoja, sosok penyair Turki yang wafat pada abad ke-13. Wejangan-wejangannya disampaikan melalui perkataan atau bahkan tindakan yang janggal, tidak terduga, dan sering kali mengundang gelak tawa.

Abu Nawas lahir di daerah bernama Ahvaz (kini bagian dari Iran) pada tahun 747 Masehi. Hayatnya terutama dikenal lantaran kedekatannya dengan Sultan Harun al-Rasyid. Pada zaman kepemimpinan raja tersebut, peradaban Baghdad mengalami kemajuan yang pesat.

Sebagai seorang penyair, mula-mula Abu Nawas masyhur sebagai sosok yang nyentrik. Ia suka mabuk-mabukan. Namun, pada akhirnya lelaki ini memperoleh pencerahan. Ia menemukan tambatan ekspresi jiwanya melalui dunia sufi. Sejak saat itu, inspirasi puisinya bukan lagi minuman memabukkan, melainkan nilai-nilai tauhid.

Sejak kecil, Abu Nawas hidup sebagai yatim. Berkat kegigihan sang ibu, ia dapat tinggal dan belajar di Basrah, kota kosmopolitan di Irak. Abu Nawas belajar sastra dan bahasa Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Selain sastra, Abu Nawas juga belajar Alquran dan hadis, yakni masing-masing kepada Ya'qub al-Hadrami dan Abu Walid bin Ziyad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement