REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini, kita telah berada di bulan Syawal. Secara etimologi, arti kata "syawal" adalah peningkatan. Secara makna, kata "syawal" adalah peningkatan.
Bulan Syawal kita artikan dengan bulan peningkatan, bulan motivasi, komitmen, dan pembuktian diri. Jangan sampai peningkatan ibadah dan kualitas keimanan selama Ramadhan berhenti setelah Ramadhan berlalu sehingga kita tidak mendapatkan hakikat syawal yang sebenar-benarnya.
Pasca-Ramadhan kita menemui Idul Fitri yang artinya kembali kepada kesucian diri. Maka, puasa Ramadhan, ibadah tadarus, ibadah Tarawih, dan berbagai ibadah lainnya adalah api yang mampu membakar segala keburukan-keburukan kita.
Ramadhan juga sebagai bulan penghapus yang mampu menghapus segala kejelekan-kejelekan amal kita. Kita kembali menjadi manusia bersih suci seperti bayi yang lahir dalam keadaan suci (idul fitri).
Dari sinilah, kita berharap bulan Syawal menjadi bulan pembuktian diri. Bulan komitmen untuk memotivasi diri agar 11 bulan berikutnya, konsistensi kebaikannya tetap terjaga dengan baik.
Puasa Ramadhan termasuk ibadah mahdhah (murni) yang hubungannya langsung dengan Allah SWT alias hablum minallah.
Ketika tiba bulan Syawal sering diisi dengan silaturahim halal bi halal yang menjadi tradisi khas Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menghapus segala dosa dan kesalahan yang terkait dengan ibadah ghairu mahdhah alias hablum minannas (hubungannya dengan manusia alias haqqul adami).




