REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan pada Senin (16/3/2026) ini bahwa tidak ada negara Islam yang berdiri di pihak rakyat Iran dalam perang Amerika-Israel terhadap negaranya.
“Kecuali dalam kasus-kasus langka dan dalam batas-batas sikap politik," kata dia, dikutip Aljazeera, Selasa (17/3/2026).
Larijani menekankan dalam surat yang ditujukan kepada umat Islam dan pemerintah negara-negara Islam, rakyat Iran berhasil menekan musuh hingga dia tak mampu menemukan jalan keluar dari kebuntuan strategis.
Dia mengatakan, beberapa negara menganggap negaranya sebagai musuh, karena Teheran menargetkan pangkalan dan kepentingan Amerika serta kepentingan Israel di wilayahnya.
Dia bertanya, "Apakah Iran diminta untuk berdiam diri sementara pangkalan Amerika di negara-negara tersebut digunakan untuk menyerang mereka?", kata dia sembari menggambarkan dalih negara-negara tersebut sebagai lemah.
Dia bertanya, "Bukankah sikap beberapa pemerintah Islam bertentangan dengan perkataan Nabi (Barangsiapa mendengar seseorang berseru, 'Wahai umat Islam,' lalu tidak menjawabnya, maka dia bukanlah seorang Muslim)?", sambil berkomentar, "Islam macam apa ini?"
Dalam pertanyaan yang ditujukan kepada umat Islam, pejabat Iran itu berkata, "Di pihak mana kalian berdiri?", sambil menegaskan bahwa perang ini melibatkan dua pihak, "Amerika dan Israel di satu sisi, serta Teheran yang Muslim dan kekuatan perlawanan di sisi lain."
Larijani mengatakan negaranya terus berada di jalur perlawanan dan menghadapi Amerika dan Israel, sambil menunjuk bahwa Iran menjadi sasaran apa yang dia gambarkan sebagai agresi licik yang terjadi selama negosiasi dengan Washington, dan bahwa tujuannya adalah menghancurkan Iran.
عبدٌ من عباد الله
علي لاريجاني https://t.co/bwICBtOPRM pic.twitter.com/prh5F02Krh
— Ali Larijani | علی لاریجانی (@alilarijani_ir) March 16, 2026




