Rabu 11 Mar 2026 18:02 WIB

Bahagia dengan Rasa Cukup

Merasa cukup dengan yang ada atau qana'ah menjadi tanda syukur kepada Allah.

ILUSTRASI Muslim bahagia
Foto: dok ist
ILUSTRASI Muslim bahagia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hidup adalah tentang seni mengelola ketidakpastian. Berupaya menerima dan berlapang dada pada setiap takdir sebagai simbol kebijaksanaan.

Sedia mengikis setiap kemauan untuk lebih dengan meneguhkan rasa cukup sebagai jalan meraih cinta Tuhan.

Baca Juga

Rasa cukup menjadi tanda syukur yang amat menawan. Rasa cukup pun hadir berdampingan dengan sikap sabar dan tulus pada segenap jalan terjal dalam kehidupan.

Selalu tersenyum dan menyematkan prasangka baik terhadap setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Untuk menggapai kebahagiaan, rasa cukup menjadi ungkapan syukur dan jalan yang amat mengagumkan.

Dari Mu'adz bin Jabal RA diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyentuh tangan Mu'adz dan dengan tulus berkata, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu, demi Allah, aku mencintaimu."

Selanjutnya, Nabi SAW memberikan pesan penting kepada Mu'adz, yaitu agar dia selalu berdoa setelah menyelesaikan shalat, dengan kata-kata, "Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan baik (Allaahumma a'innii 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatika)" (HR Abu Daud).

Hadis ini menginspirasi kita untuk senantiasa melantunkan rasa syukur karena Allah SWT. Menekankan rasa cukup dan menangkis keinginan untuk lebih yang sering kali melahirkan keburukan.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement