Kamis 05 Mar 2026 18:15 WIB

Mengapa 17 Ramadhan Dipandang Waktu Nuzulul Quran?

Nuzulul Quran kerap diperingati pada tanggal 17 Ramadhan.

Pawai menyambut malam Nuzulul Quran (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin
Pawai menyambut malam Nuzulul Quran (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran merupakan perkataan (kalam) Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Sebagai kitab Allah, Alquran menempati posisi sebagai sumber utama dan pertama seluruh ajaran Islam.

Secara kebahasaan, alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti 'bacaan' atau 'sesuatu yang dibaca berulang-ulang.' Alquran merupakan kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang berarti 'membaca.'

Baca Juga

Pemakaian istilah ini juga dijumpai pada surah al-Qiyamah ayat 17-18. Artinya, "Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya (wa qur`aanah). Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu."

Kitabullah ini sejumlah nama, bukan hanya Alquran. Ini ditunjukkan dalam beberapa ayat. Di antara nama-namanya adalah al-Kitab, al-Furqan (pembeda benar-salah), adz-Dzikr (pemberi peringatan), al-Mau'idhah (pelajaran), dan al-Hukm (peraturan).

Dalam khazanah Islam, turunnya Alquran pada waktu yang pertama kali disebut sebagai Nuzulul Quran. Biasanya, peringatan Nuzulul Quran berlangsung setiap tanggal 17 Ramadhan. Di Indonesia, pada tanggal tersebut kerap disemarakkan dengan pelbagai kegiatan, seperti tadarus Alquran atau pengajian keagamaan.

Mengapa kaum Muslimin umumnya memperingati "malam turunnya Alquran" pada 17 Ramadhan, sedangkan dalam Alquran sendiri--tepatnya surah al-Qadr--ditegaskan bahwa Allah menurunkan Kalamullah ini pada malam Lailatul Qadar?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement