REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH — Bagi jutaan Muslim di dunia, Ramadhan kerap dimulai dengan sebutir kurma. Namun, di balik tradisi mulia ini alarm peringatan tengah berbunyi keras: Kurma yang tersaji di meja iftar mungkin menyembunyikan asal-usul yang tak terduga.
Laporan dari media Palestina dan berbagai lembaga internasional mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan Israel semakin gencar memasarkan kurma hasil permukiman ilegal dengan label yang menyesatkan, seperti "Made in the West Bank" atau kemasan yang menyugestikan produk asli Palestina. Praktik ini meningkat seiring meluasnya kampanye boikot di Eropa dan dunia Arab, seperti dikutip dari laman Palestine Chronicle.
Investigasi Al-Ghad TV mendokumentasikan perubahan label tersebut pasca-tekanan boikot. Kotak yang sebelumnya bertanda "Made in Israel" kini dikemas ulang agar tampak diproduksi secara lokal, guna menyasar konsumen yang secara sadar mencari produk asli Palestina.
Sulit dibedakan
'Penipuan' ini terbilang efektif mengingat konsumen seringkali tidak dapat membedakan fisik produk. Mohammad Kaid Salim, seorang pedagang asal Palestina, menjelaskan bahwa kondisi iklim di Lembah Yordan dan cekungan Laut Mati menghasilkan kurma dengan tekstur dan penampilan yang hampir identik.
Perwakilan eksportir Palestina, Mohammad Sawafteh, menekankan, pembeli tidak boleh hanya mengandalkan tampilan fisik. "Verifikasi sumber harus bergantung pada dokumen resmi," ujarnya kepada Anadolu Agency. Produk ekspor resmi Palestina selalu disertai sertifikat kesehatan dari Kementerian Pertanian Palestina, dokumen pabean EUR.1, serta sertifikat asal dari Kamar Dagang.




