Kamis 19 Feb 2026 05:39 WIB

Kekhusyukan Tarawih Perdana di Antara Beda Hari dan Sama Hati

Tarawih pertama menyatukan hati di tengah perbedaan waktu dan tempat.

Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih.
Foto: Edwin Putranto/Republika
Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di malam pertama Ramadhan 1447 Hijriah, ketika azan magrib masih bergema di udara yang mulai sejuk, ratusan umat Islam di Kuala Lumpur memenuhi Masjid Negara.

Shalat tarawih dimulai pukul 21.00 waktu setempat, dipimpin Imam Ahmad Mujahid bin Salleh Sani, dua puluh rakaat yang dijalani dengan khusyuk, seolah waktu berhenti sejenak di antara hembus napas dan suara tasbih. Selesai sekitar pukul 23.00, jamaah berpisah dengan senyum tipis, seperti orang yang baru saja mendapat hadiah kecil dari Tuhan.

Baca Juga

Rafiuddin, seorang warga Kuala Lumpur, berkata sederhana: “Senang shalat di sini, tempatnya bagus dan nyaman. Imamnya suara merdu.” Eizral Eizarel Ezrin datang bersama keluarga besar, pakcik dan makcik, karena masjid itu indah, katanya.

Abdul Rasyid menambahkan: “Lokasinya di tengah kota, transportasi mudah, parkir luas. Saya sudah terbiasa.” Masjid Negara, dibangun tahun 1963 dengan atap biru khasnya, menampung 15.000 jamaah tanpa desak-desakan. Di sana, ibadah terasa lapang, seperti hati yang diberi ruang.

Di Cibinong, Bogor, Masjid Nurul Wathon, masjid raya baru yang dibangun Pemkab Bogor dengan anggaran Rp112 miliar, untuk pertama kalinya menggelar tarawih perdana. Ruang utama lantai satu dan dua penuh, jamaah meluber ke selasar dan halaman. Petugas DKM bersama aparatur kabupaten mengatur arus manusia agar tertib.

Masjid ini selesai dibangun hanya dalam delapan bulan, menara Tauhidnya setinggi 96 meter berfungsi juga sebagai menara pandang, lengkap dengan kolam refleksi dan jalur pejalan kaki selebar delapan meter. Bupati Rudy Susmanto mendatangkan potongan kiswah Ka’bah, bekas pintu Ka’bah, dan Al Mizab, seperti membawa sepotong Mekkah ke tanah Bogor.

Di tengah keramaian itu, Polres Bogor memasang CCTV di 36 masjid se-Kabupaten Bogor. Kapolres AKBP Wikha Ardilestanto menyebutnya bagian dari “Geber Masjid Asri”: bersih-bersih serentak, penataan lingkungan, dan penguatan keamanan. Kamera difokuskan di area parkir untuk mencegah pencurian motor saat tarawih.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement