REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dai nasional, Ustadz Muhammad Assad mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki lisan dan perilaku di ruang digital.
Dia mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perkataan buruk, termasuk di media sosial.
“Ramadhan adalah bulan menahan. Bukan hanya menahan dari lapar dan haus, tapi yang lebih penting menahan dari ghibah, menahan dari mengumpat orang, menahan dari hal-hal buruk yang biasa kita lakukan di bulan sebelumnya,” ujar Ustadz Assad saat ditemui disela-sela acara "Ngadem Sore Bareng Aqua: #TemanAdemRamadan" di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Dia menegaskan pentingnya menjaga ucapan agar tidak melukai orang lain. Ustadz Assad mengutip Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Falyaqul khairan au liyashmut” — berkata baik atau lebih baik diam.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya ghibah secara lisan, tetapi juga “ghibah jempol” di dunia digital.
Kebiasaan mengomentari unggahan orang lain secara negatif, membuat status yang menyindir, atau menuliskan hal yang tidak bermanfaat di media sosial perlu dihentikan, setidaknya selama bulan Ramadhan.
“Yang sering terjadi ini kan kita suka ghibah jempol, scrolling social media, kemudian kita pasang status, kemudian kita komen terhadap postingan orang lain, nah itu di-stop semuanya,” ucapnya.
Ustadz Assad menilai, Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk melatih pengendalian diri, baik terhadap hawa nafsu, emosi, maupun kebiasaan buruk dalam berkomunikasi. Jika tidak dimulai pada bulan penuh keberkahan ini, ia khawatir kebiasaan tersebut akan sulit diubah.




