REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jutaan umat Muslim di seluruh dunia menyambut dengan penuh sukacita dan harapan kedatangan bulan Ramadan, bulan yang paling istimewa sepanjang tahun. Bulan ini membawa aura kesucian yang mendalam, di mana setiap Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa, sambil memenuhi hari-harinya dengan ibadah, doa, tilawah Alquran, serta kebaikan kepada sesama. Di malam-malamnya yang penuh berkah, terdapat Laylatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, di mana ampunan dan rahmat Allah SWT melimpah ruah bagi hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri.
Kegembiraan ini terasa begitu nyata, karena Ramadan bukan sekadar rutinitas puasa, melainkan momen transformasi spiritual yang dinanti-nantikan. Dari berbagai penjuru dunia, umat Islam bersiap menyambut bulan penuh ampunan ini dengan hati yang lapang, saling mengingatkan untuk memperbanyak amal shaleh, dan menjaga silaturahmi dalam suasana keimanan yang hangat.
Di Mesir, warga dengan penuh antusias menanti pengumuman resmi hari pertama Ramadan yang akan dikeluarkan oleh Dar al-Ifta al-Misriyyah (Otoritas Fatwa Mesir), di bawah kepemimpinan Mufti Agung, setelah pengamatan hilal dan konfirmasinya sesuai syariat Islam. Pengumuman ini menjadi penentu bagi jutaan Muslim di negeri itu untuk memulai ritual puasa dan ibadah dalam suasana spiritual yang khas dan penuh keimanan.
Dr. Mohamed Gharib, Profesor Riset Matahari di Institut Riset Astronomi dan Geofisika Nasional, menyatakan dalam pernyataan khusus kepada Al-Arabiya Net dan Al-Hadath Net bahwa penetapan tanggal resmi hari pertama Ramadan tetap menjadi wewenang Mufti Agung Mesir. Keputusan ini mengikuti kaidah syariah yang telah disepakati, berdasarkan pengamatan hilal Ramadan, baik dengan mata telanjang maupun dibantu perhitungan astronomi, untuk memastikan apakah hilal terlihat atau tidak, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Menurut perhitungan astronomi, bulan Sya'ban kemungkinan berlangsung selama 30 hari. Bulan Sya'ban 1447 H (tahun 2026 M) kemungkinan besar berlangsung selama 30 hari karena pada hari ke-29, yaitu Selasa, 17 Februari 2026, posisi hilal saat matahari terbenam diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS (tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4°), sehingga secara astronomis bulan sabit sulit diamati dan bilangan bulan Sya'ban harus digenapkan (istikmal).
Durasi bulan Hijriah yang bervariasi antara 29 atau 30 hari ini disebabkan oleh periode sinodik bulan yang rata-rata memakan waktu 29,53 hari, namun karena bulan tidak bisa dimulai di tengah hari, maka penentuan awal bulan seperti Ramadan pada Kementerian Agama bergantung pada keterlihatan fisik hilal atau perhitungan hisab yang presisi.
Bulan baru Ramadan diperkirakan tiba sebelum hari pengamatan, tetapi durasi penampakan hilal setelah matahari terbenam menjadi faktor penentu visibilitasnya. Dr. Gharib menjelaskan bahwa pada 17 Februari, durasi penampakan hilal di langit Kairo hanya sekitar 3 menit, sementara di beberapa provinsi lain di Mesir mencapai sekitar 4 menit, dan di Makkah juga sekitar 3 menit. Durasi yang relatif singkat ini justru meningkatkan peluang terlihatnya hilal, sehingga secara astronomis, bulan Sya'ban diprediksi genap 30 hari dan hari pertama Ramadan jatuh pada 19 Februari.
Pada akhir pernyataannya, Dr. Gharib menegaskan bahwa perkiraan ini murni bersifat astronomis. Keputusan akhir dan resmi sepenuhnya bergantung pada pengumuman Dar al-Ifta al-Misriyyah setelah pengamatan hilal yang sah, sesuai metodologi penentuan awal bulan Hijriah yang berlaku.
Dar al-Ifta al-Misriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) adalah institusi keagamaan resmi tertua di dunia Islam yang didirikan pada tahun 1895 M sebagai pusat penelitian hukum Islam yang prestisius. Menurut Wikipedia, lembaga ini berfungsi sebagai badan penasihat dan peradilan yang memberikan bimbingan keagamaan bagi umat Islam Sunni melalui penerbitan fatwa terkait isu keseharian maupun kontemporer. Di bawah naungan pemerintah Mesir, Dar al-Ifta menjadi salah satu pilar utama otoritas keagamaan di Mesir bersama Al-Azhar Al-Syarif, Universitas Al-Azhar, dan Kementerian Wakaf, dengan jangkauan pengaruh yang mencakup komunitas Muslim secara global.




