Ahad 01 Feb 2026 15:38 WIB

Kemenag Perkenalkan Ekoteologi dalam Seminar Internasional di Kairo

Kemenag menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai prioritas kebijakan keagamaan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, saat menjadi pembicara dalam seminar internasional yang digelar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Kairo, Mesir, Sabtu (31/1/2026).
Foto: Dok Kemenag
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, saat menjadi pembicara dalam seminar internasional yang digelar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Kairo, Mesir, Sabtu (31/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID,KAIRO — Kementerian Agama (Kemenag) RI memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial. Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah Amir, saat menjadi pembicara dalam seminar internasional yang digelar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Kairo, Mesir, Sabtu (31/1/2026), menjelaskan, agama punya peran strategis dalam menjawab tantangan global, termasuk krisis ekologis dan kemanusiaan yang saling berkaitan.

Dalam seminar internasional yang diikuti 150 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan keagamaan itu,  dunia modern saat ini dihadapkan pada berbagai krisis yang kompleks. “Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,”kata dia lewat keterangan tertulis.

Baca Juga

Ia menekankan bahwa agama tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai praktik ritual atau identitas formal, melainkan harus hadir sebagai kekuatan yang membangun relasi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.“Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” kata dia.

Menurut Lubenah, inti ajaran Islam adalah rahmah atau kasih sayang yang bersifat universal dan melampaui batas ruang serta waktu. Konsep rahmat bagi seluruh alam tersebut menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,”kata dia.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam praktik kehidupan modern, nilai-nilai universal tersebut kerap mengalami fragmentasi dan terlepas dari kepekaan terhadap penderitaan manusia serta kerusakan lingkungan.

“Di sinilah pentingnya upaya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar sebagai wacana normatif, tetapi sebagai spirit yang hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari,”kata Lubenah.

photo
Ketua MUI Bidang Infokom (kanan) menyerahkan tanaman produktif kepada perwakilan guru madrasah dalam Workshop Ekoteologi Bagi Guru Madrasah se-Tangerang Selatan di Padepokan ASWAJA, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (13/11/2025). - (Dok Istimewa)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement