REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah hari pertama. Perlu diketahui bahwa menurut para ulama puasa tidak hanya sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai proses penyucian lahir dan batin.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali yang dikenal sebagai Imam Al Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, ia membagi puasa ke dalam tiga tingkatan mulai dari puasa orang awam hingga puasa paling tinggi derajatnya yang menunjukkan kualitas spiritual seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Dalam Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan puasa. Yaitu puasa orang yang awam, puasa orang yang khusus, dan puasa orang yang spesial.
Tingkat atau level pertama, puasa orang yang awam (shaumul awam). Yaitu puasanya orang-orang pada umumnya. Yaitu, dengan menahan diri dari makan, minum, dan mencegah kemaluan dari bersenggama sejak memasuki waktu Subuh hingga Maghrib. Inilah tingkatan puasa dengan nilai yang terendah.
Tingkat atau level kedua, puasa orang yang khusus (shaumul khawas). Yaitu puasa yang tidak hanya sekadar menahan diri dari memenuhi keinginan perut serta berhubungan suami istri di siang hari. Akan tetapi juga menjaga pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan semua anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan dosa maupun maksiat.
Tingkat atau level ketiga, puasa orang yang spesial atau sangat khusus (khawashul khawas). Yaitu puasa yang tertinggi nilai maupun tingkatannya. Orang pada tingkatan ini sudah mampu mengendalikan qalbu dari dorongan nafsu dan pikiran duniawi. Qalbu serta pikirannya hanya tertuju kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sedangkan pandangannya kepada dunia tidak lebih hanya sekadar tempat untuk beramal shalih, sebagai bekal dan persiapan bagi kehidupan di negeri akhirat yang lebih kekal.




