
Oleh : DR Otong Sulaeman, Ketua/Rektor STAI Sadra periode 2024-2028
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ada satu peringatan tua dalam filsafat Yunani klasik yang hari ini terdengar seperti nubuat. Plato menulis dalam Republic bahwa negara tidak akan pernah terbebas dari kehancuran sebelum para filsuf menjadi raja atau para raja sungguh-sungguh berfilsafat.
Maksud dari pernyataan Plato itu adalah: dunia tidak akan selamat jika kekuasaan dipegang oleh orang yang dikuasai nafsu harta atau nafsu kuasa. Donald Trump, tanpa sadar, sedang membuktikan kebenaran itu di hadapan mata kita.
Trump bukan sekadar presiden Amerika yang kontroversial. Ia adalah tipe manusia politik yang sejak 2.400 tahun lalu sudah dicurigai Plato dan Aristoteles sebagai benih malapetaka.
Ia adalah pedagang yang memerintah, penguasa yang berbisnis, dan negarawan yang memperlakukan dunia sebagai meja transaksi.
Ia membawa logika pasar ke jantung negara, dan logika negara ke jantung pasar. Dalam tradisi Yunani klasik, inilah kombinasi paling berbahaya.
Plato membagi manusia menjadi tiga kelas moral. Pertama, adalah kaum pedagang yang digerakkan hasrat untung dan akumulasi. Kelompok kedua adalah militer yang digerakkan kehormatan dan dominasi.
Ketiga adalah filsuf-aristokrat yang perilakunya digerakkan oleh hikmah dan keadilan. Negara yang sehat, kata Plato, hanya bisa berdiri jika kelas ketiga yang memerintah.




