Kamis 08 Jan 2026 08:52 WIB

Mimpi Sahabat yang Mengilhami Lafadz Adzan

Adzan merupakan kalimat langit yang turun ke bumi.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi mengumandangkan adzan.
Foto: hurriyet daily news
Ilustrasi mengumandangkan adzan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Madinah, Tahun 2 Hijriyah. Kota itu tengah bersiap menjadi pusat peradaban baru, namun sebuah kegelisahan kecil menghinggapi benak Rasulullah SAW dan para sahabat: Bagaimana cara memanggil umat untuk berkumpul salat dengan cara yang syar’i sekaligus menjadi identitas pembeda dari tradisi umat lain?

Sebelum adzan disyariatkan, umat Islam di Madinah biasanya berkumpul berdasarkan perkiraan waktu saja. Dalam sebuah musyawarah, berbagai usul pun mengemuka. Ada yang menyarankan penggunaan Nagus (lonceng kayu seperti kaum Nasrani), Syabbur (terompet tanduk seperti kaum Yahudi), hingga menyalakan api di tempat tinggi sebagaimana tradisi kaum Majusi.

Baca Juga

Namun, Rasulullah SAW merasa keberatan. Beliau mendambakan sebuah identitas unik yang mencerminkan ketauhidan murni, bukan sekadar bunyi-bunyian alat musik.

Mimpi Sang Sahabat yang Tulus

Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabbihi adalah sosok sahabat dari kaum Anshar yang dikenal memiliki kebersihan hati dan kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah. Meski ia bukan dari kalangan bangsawan terpandang, ketulusannya dalam memikirkan urusan umat menjadikannya wasilah turunnya ilham besar; ia merupakan prajurit yang tangguh sekaligus hamba yang selalu merindukan petunjuk langit bagi tegaknya syiar Islam.

Di tengah kebuntuan musyawarah itu, Abdullah bin Zaid pulang dengan pikiran yang masih terpaku pada diskusi tersebut. Dalam tidurnya, ia mengalami visi yang jernih. Ia melihat seorang pria berjubah hijau membawa lonceng. Abdullah bertanya, "Maukah engkau menjual lonceng itu kepadaku untuk memanggil orang salat?" Pria itu menjawab, "Maukah aku tunjukkan cara yang lebih baik?" Lalu, sang pria melantunkan kalimat-kalimat agung: Allahu Akbar, Allahu Akbar... hingga akhir lafaz adzan yang kita kenal hari ini.

Konfirmasi dari Langit dan Bumi

Keesokan paginya, Abdullah segera menghadap Rasulullah. Beliau bersabda: "Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar (ru'ya sadiqah), insya Allah." Hal menakjubkan terjadi sesaat kemudian; Umar bin Khattab yang mendengar Abdullah mempraktikkan kalimat tersebut segera berlari keluar dan berseru:

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement