Jumat 02 Jan 2026 15:33 WIB

Adakah Hari Baik Itu?

Apa Islam membenarkan adanya anggapa bahwa suatu hari adalah hari baik?

Hari dalam masa (ilustrasi)
Foto: Andi Nur Aminah/Republika
Hari dalam masa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mencari dan menetapkan hari baik untuk melakukan sesuatu barangkali sudah menjadi bagian kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia. Untuk sebuah hari yang baik itu, kadang-kadang orang perlu menunda pekerjaan baik, untuk selanjutnya menunggu berbulan-bulan lamanya.

Tradisi tersebut bukan semata milik masyarakat tradisional kita. Dalam suatu kondisi psikologis tertentu, kalangan terpelajar, akademis, pejabat, dan lain-lain yang sehari-hari apriori dengan hal-hal yang rasional mengamalkan tradisi itu juga.

Baca Juga

Almarhum KH Ilyas Syarqawi, bapak dari para kyai dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep, Madura, misalnya.

Pada suatu kali, Kiai Ilyas kedatangan keponakannya untuk menanyai pendapat beliau tentang kapan sebaiknya berangkat mondok.

Beliau balik bertanya, ''Kamu sendiri merencanakan kapan berangkat?''

Sang ponakan menjawab hari Senin, tetapi ragu dan hendak berangkat hari Rabu atau Jumat.

''Hari Senin baik. Hari Rabu baik. Jumat juga baik,'' jawab KH Ilyas singkat.

Sang ponakan, rupanya orang cerdik, sambil menyelidik kembali ia menyebut hari-hari lain dan menanyakan pendapat beliau kembali. ''Semua hari baik untuk berbuat kebaikan,'' jelas Kiai Ilyas.

Jawaban beliau tersebut termasuk sikap modern pada zamannya. Lebih-lebih, beliau menyatakannya di lingkungan masyarakat tradisional pada saat Indonesia baru merdeka. Sekali lagi membuktikan, betapa seorang kiai tradisional yang hidup di lingkungan kampung terpencil mampu menyikapi persoalan secara modern.

Ibnu Abbas, sepupu Rasulullah ketika ditanya tentang hari, bulan, dan pekerjaan yang terbaik, menjawab, ''Hari Jumat, bulan Ramadhan, dan shalat wajib lima waktu.''

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Hikmah Republika oleh Syarqawi Dhofir
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement