Senin 29 Dec 2025 12:39 WIB

PBNU Ajak Umat Tutup Tahun dengan Dzikir dan Muhasabah

Dzikir Nasional Republika akhir tahun digelar di Masjid At Thohir Depok.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Masjid At Thohir
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Masjid At Thohir

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftah Faqih mengajak umat Islam di Indonesia untuk menutup akhir tahun 2025 dengan kegiatan dzikir dan muhasabah di masjid sebagai wujud syukur sekaligus pengagungan kepada Allah SWT.

Menurut Kiai Miftah, sebagai bangsa yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia mengisi pergantian tahun dengan dzikir kebangsaan. Dzikir, kata dia, menjadi sarana spiritual untuk mensyukuri seluruh karunia Allah sekaligus memohon solusi atas berbagai ujian yang dihadapi bangsa.

Baca Juga

“Sebagai negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, sudah sepantasnyalah semua insan NKRI ini menjalani dzikir kebangsaan sebagai rasa syukur atas semua karunia yang dicurahkan Allah SWT ke penjuru negeri ini,” ujar Kiai Miftah kepada Republika.co.id, Senin (29/12/2025).

Ia menegaskan, dinamika kehidupan bangsa, baik dalam kondisi susah maupun bahagia, merupakan ujian yang harus disikapi dengan pendekatan spiritual. Melalui dzikir dan doa bersama, umat diharapkan memperoleh ketenangan batin sekaligus jalan keluar yang maslahat bagi seluruh elemen masyarakat.

“Susah dan bahagia adalah ujian. Dengan dzikir, insya Allah segala macam kesusahan dapat segera terurai dan mendapatkan solusi yang maslahat bagi semua,” ucapnya.

Terkait Dzikir Nasional Akhir Tahun yang rutin diselenggarakan Republika sejak puluhan tahun lalu, Kiai Miftah menilai kegiatan tersebut sebagai inisiatif positif yang patut diapresiasi. Ia menyebut dzikir nasional sebagai momentum introspeksi bersama dalam merawat persatuan dan kebhinekaan bangsa.

“Dzikir nasional yang telah berjalan puluhan tahun itu merupakan aksi yang baik, mengingatkan semua pihak untuk melakukan introspeksi secara komunal dalam upaya merawat kebhinekaan menuju Indonesia emas yang mulia,” ujar Kiai Miftah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement