Selasa 16 Dec 2025 16:44 WIB

226 Pesantren Rusak Akibat Bencana Sumatera

Kemenag melakukan pemetaan tingkat kerusakan pesantren akibat bencana Sumatera.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Dua orang anak belajar mengaji dengan menggunakan penerangan panyot atau lampu minyak tradisonal di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (9/12/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Dua orang anak belajar mengaji dengan menggunakan penerangan panyot atau lampu minyak tradisonal di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (9/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG — Kementerian Agama (Kemenag) mencatat ratusan pondok pesantren di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak bencana banjir. Hingga saat ini, Kemenag memastikan tidak ada laporan korban jiwa dari kalangan santri maupun pengelola pesantren. 

Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengatakan jumlah pesantren terdampak paling banyak berada di Aceh. “Di Aceh ada sekitar 176 pesantren, di Sumatera Utara kurang lebih 30 pesantren, dan di Sumatera Barat sekitar 20 pesantren,” ujar Basnang saat ditemui di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag di Tangerang, Selasa (16/12/2025).

Baca Juga

Menurut Basnang, kondisi pesantren yang terdampak bervariasi, dari rusak ringan hingga rusak berat. Salah satu pesantren yang sempat ditinjau Kemenag adalah Pesantren Darul Muhlisin di Aceh Tamiang. “Pesantren itu santrinya sekitar 250 orang. Secara umum pesantrennya cukup bagus, meskipun terdampak banjir dan kemasukan material kayu,”kata dia.

photo
Alat berat membersihkan reruntuhan rumah, kayu, dan lumpur sisa bencana banjir bandang ke atas truk yang mengantre di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025). - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Ia menjelaskan, Kemenag melalui kantor wilayah telah melakukan pemetaan tingkat kerusakan pesantren, baik rusak berat, sedang, maupun ringan. Pemetaan ini menjadi dasar penyaluran bantuan dan langkah pemulihan selanjutnya.

Saat ini, lanjut Basnang, para santri masih berada di rumah masing-masing karena proses evakuasi masih berlangsung.“Masa darurat sampai tanggal 25, setelah itu masuk masa rekonstruksi. Ketika lumpur sudah dibersihkan dan lahan ditinggikan, pembelajaran akan kembali dilaksanakan,”kata dia.

Untuk membantu pemulihan, Kemenag juga menyiapkan bantuan sebesar Rp 3 miliar yang diprioritaskan bagi pesantren dengan kerusakan berat di tiga wilayah tersebut. Bantuan itu difokuskan pada tahap pemulihan awal.  

“Bantuan ini untuk pemulihan, seperti pengangkatan lumpur dan penanganan dampak awal lainnya. Untuk pembangunan kembali kita rencanakan pada tahun 2026,” kata Basnang.

Terkait korban, Basnang menegaskan hingga kini tidak ada laporan korban meninggal dunia dari lingkungan pesantren. “Sampai hari ini tidak ada data korban tewas dari kami. Santri hanya terdampak banjir, alhamdulillah tidak ada korban jiwa,”jelas dia.

Basnang berharap proses pemulihan berjalan lancar sehingga aktivitas pendidikan di pesantren dapat kembali normal setelah masa rekonstruksi dimulai.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement