REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Terapi Penyakit Hati mengatakan, maksiat merendahkan dan menginjak-injak jiwa hingga menjadi terhina. Sedangkan ketaatan menumbuhkan dan membersihkan jiwa.
Allah berfirman: "Telah menang siapa yang menyucikannya dan rugilah orang yang membenamkannya (ke dalam tanah)."
Maknanya, orang yang mengalahkan kesombongan dan kecongkakan jiwanya adalah orang yang menaati Allah dan melaksanakan ajaran agamaNya. Sedangkan orang yang merugi adalah orang yang bermaksiat kepada Allah SWT dan itulah orang yang menghinakan jiwanya.
Asal kata 'dassa' adalah "membenamkan ke dalam lumpur". Allah berfirman "Apakah ia membenamkannya ke dalam tanah" (QS: An Nahl: 59). Maka, para pelaku maksiat adalah orang yang menenggalamkan dirinya ke dalam kemaksiatan, menyembunyikan dirinya dari tempatnya dan khalayak karena buruknya perbuatan.
Ia merasa rendah dengan dirinya sendiri, hina di depan Allah dan sesama manusia. Adapun ketaatan dan al birr (perbuatan baik) akan membesarkan, memuliakan, dan meninggikan jiwa hingga menjadi menjadi mulia dan agung, suci, dan tinggi. Pada saat yang sama, jiwa ini menjadi kecil, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. Dengan ketaatan yang ia manifestasikan, jiwa merasa kecil, rendah, dan hina.
Inilah jiwa yang mendapatkan kemuliaan, ketinggian, dan perkembangan. Karenanya, tidak ada yang lebih mengecilkan dan merendahkan jiwa, selain maksiat kepada Allah. Dan, tiada yang lebih membesarkan, meninggikan, dan memuliakannya selain taat kepada Allah SWT.




