REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Di tengah kian parahnya krisis ekologis, manusia diingatkan kembali bahwa bumi bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan amanah yang harus dijaga. Kerusakan yang merajalela bukan hanya lahir dari keserakahan, tetapi juga dari wajah-wajah munafik yang membungkus perusakan dengan dalih perbaikan. Alquran menegaskan bahwa merusak bumi adalah bentuk kefasikan, dan kemunafikan menjadi akar kehancuran tatanan sosial maupun lingkungan.
Renungkanlah, betapa bumi yang dulu bersih kini tercemar oleh ulah tangan manusia yang serakah. Hutan dibabat, laut diracuni, udara dikotori.
Padahal, bumi adalah amanah, bukan warisan. la titipan untuk dijaga, bukan untuk dihisap habis. Alquran mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan moral, tetapi bagian dari iman yang hidup, karena iman sejati tidak akan tega merusak ciptaan Tuhan yang agung.
Namun, yang lebih menyedihkan adalah saat kerusakan itu dibungkus dengan retorika kebaikan. Mereka berkata, "Kami hanya ingin memperbaiki," tetapi jejak yang ditinggalkan adalah luka.
Allah telah memperingatkan kita tentang kaum munafik, mereka yang berlisan manis namun berhati busuk, yang menebar racun di balik senyum. Jangan mudah terpesona oleh tampilan. Jangan cepat percaya pada janji. Hidayah mengajarkan kita untuk membedakan antara cahaya dan api, antara ketulusan dan tipu daya. Sebab, tidak semua yang bersinar adalah terang, bisa jadi ia adalah bara yang membakar dari dalam.
Dalam Tafsir Ayat-Ayat Ekologi, diterangkan secara tegas bahwa kemunafikan tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga menjadi akar dari kerusakan ekologis yang kian parah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
Wa iżā qīla lahum lā tufsidū fil-arḍ(i), qālū innamā naḥnu muṣliḥūn(a).
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan." (QS Al-Baqarah Ayat 11)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
Alā innahum humul-mufsidūna wa lākil lā yasy‘urūn(a).
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (QS Al-Baqarah Ayat 12)
Ayat tersebut menurut Tafsir Ayat-Ayat Ekologi yang diterbitkan Kementerian Agama RI, mengungkap fenomena kaum munafik yang secara sadar melakukan berbagai bentuk kerusakan-baik secara moral, sosial, maupun lingkungan, namun tetap mengklaim bahwa mereka sedang melakukan perbaikan.
Kemunafikan tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga menjadi akar dari kerusakan ekologis yang kian parah. Kaum munafik, yang berselimutkan retorika kebaikan dan kepedulian, kerap mendukung atau bahkan terlibat langsung dalam kebijakan eksploitasi lingkungan demi kepentingan politik dan ekonomi pribadi. Mereka berbicara soal pelestarian alam di ruang publik, namun di balik layar justru menjadi bagian dari perusakan hutan, pencemaran air, dan perampasan tanah-tanah rakyat.




