Ahad 06 Apr 2025 16:45 WIB

Amerika Serikat Habiskan Rp 16 Triliun Lebih untuk Gempur Yaman, Tapi Dampaknya Minim

Amerika Serikat masih lakukan serangan terhadap Yaman.

Orang-orang memeriksa lokasi di mana serangan udara AS dilaporkan terjadi semalam di Sanaa, Yaman, Kamis, 20 Maret 2025.
Foto: AP Photo
Orang-orang memeriksa lokasi di mana serangan udara AS dilaporkan terjadi semalam di Sanaa, Yaman, Kamis, 20 Maret 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa serangan militer Amerika Serikat (AS) yang bernilai hampir 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 16 triliun lebih) terhadap angkatan bersenjata Yaman hanya memiliki sedikit keberhasilan dalam memberikan dampak pada kemampuannya.

Stasiun televisi Amerika Serikat, CNN, mengutip tiga sumber yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa serangan yang diluncurkan pada 15 Maret 2025 lalu telah menggunakan amunisi senilai ratusan juta dolar untuk menyerang angkatan bersenjata Yaman, termasuk rudal jelajah jarak jauh JASSM, JSOW, yang merupakan bom luncur berpemandu GPS, dan rudal Tomahawk.

Baca Juga

Para pejabat pertahanan Amerika Serikat mengumumkan awal pekan ini bahwa pesawat pengebom B-2 dari Diego Garcia - sebuah atol yang dikelola Inggris - juga digunakan untuk melawan militer Yaman, dan sebuah kapal induk tambahan serta beberapa skuadron tempur dan sistem pertahanan udara akan segera dipindahkan ke wilayah Komando Pusat.

"Mereka telah merebut beberapa situs, tetapi itu tidak mempengaruhi kemampuan Houthi untuk terus menembaki kapal-kapal di Laut Merah atau menembak jatuh pesawat tak berawak Amerika Serikat," kata salah satu sumber, merujuk pada gerakan perlawanan Ansarullah Yaman.

"Sementara itu, kami sedang membakar kesiapan-misi, bahan bakar, waktu pengerahan."

Sumber lain menggarisbawahi bahwa Pentagon kemungkinan perlu meminta dana tambahan dari Kongres untuk melanjutkan agresinya, tetapi mungkin tidak akan menerimanya karena serangan tersebut telah dikritik di kedua sisi lorong.

Bahkan Wakil Presiden JD Vance mengatakan bahwa dia menganggap agresi tersebut sebagai "sebuah kesalahan" dalam sebuah wawancara dengan Signal yang diterbitkan oleh The Atlantic pekan lalu.

Meskipun Pentagon belum secara terbuka mengungkapkan apa dampak dari serangan militer Amerika Serikat yang dilakukan setiap hari terhadap gerakan perlawanan Yaman, mereka mengakui bahwa kelompok tersebut masih dapat membentengi bunker-bunker mereka dan memelihara persediaan senjata di bawah tanah.

Hal seperti yang mereka lakukan selama serangan-serangan yang dilakukan oleh pemerintahan Joe Biden selama lebih dari satu tahun, kata para sumber.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement