REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka merupakan seorang ulama karismatik yang serba bisa. Sastrawan Helvy Tiana Rosa mengungkapkan, tokoh kelahiran Sumatra Barat itu adalah ulama Indonesia yang paling banyak menulis buku.
Helvy mengungkapkan, Buya Hamka disebut sebagai sosok yang prolifik karena menguasai berbagai bidang. Bukan hanya dakwah, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama itu pun pernah menyelami dunia jurnalistik. Di manapun berada, tokoh Muhammadiyah ini selalu bisa membuat media massa, semisal koran atau majalah.
"Jadi, beliau (Buya Hamka) ini jurnalis, sastrawan, seorang pendidik, dan filsuf juga. Kalau lihat buku-buku filsafat beliau itu, banyak banget ya. Kemudian, beliau juga politikus Masyumi," tutur dia dalam acara diskusi "Ngabubu Read: Menyusuri Karya dan Jejak Keislaman Buya Hamka" yang digelar di Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (20/3/2025)
Menurut Helvy, Buya Hamka sebagai seorang politikus pun menunjukkan keteladanan. Ini tak jauh berbeda dengan para pendekar politik umat Islam yang hidup sebelum atau sezaman dengannya, semisal Mohammad Natsir.
Sebagai seorang yang produktif berkarya, tutur Helvy, Buya Hamka telah menulis tak kurang dari 118 buku. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa penulis kitab Tafsir al-Azhar itu adalah ulama Indonesia yang paling banyak menghasilkan buku.
"Ada yang bilang Buya Hamka menulis 90 buku, tapi kebanyakan mengatakan 100 buku, dan keluarga Buya Hamka mengatakan jumlah karya beliau adalah 118 buku," ujar Helvy.
Gaya kepenulisan Buya Hamka menjadi acuan para penulis, bahkan dari generasi masa kini. Menurut Helvy, kecerdasan sang ulama tampak dari tulisan-tulisannya.
Buya Hamka dikenal sebagai pembelajar yang otodidak. Kehebatannya pun diakui luas dunia internasional. Universitas al-Azhar di Kairo, Mesir, memberikan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepadanya. Begitu pun universitas dari Malaysia. Adapun gelar guru besar atau profesor diraihnya dari Universitas Moestopo, Jakarta.
Sebagai generasi Indonesia yang lahir pada awal abad ke-20, Buya Hamka pun merasakan dampak dari Politik Etis, yang di dalamnya pemerintah kolonial Belanda membuka peluang segelintir orang Indonesia untuk merasakan pendidikan formal.
Namun, jelas Helvy, Buya Hamka dalam menempuh pendidikan tak menjadi kebarat-baratan. Bagaimanapun, suami dari Sitti Raham itu juga melahap buku-buku tentang filsafat, pemikiran, sejarah dan pengetahuan tentang Barat. Alhasil, wawasannya semakin luas dan bisa menimbang dari pelbagai perspektif.
"Hanya Buya Hamka yang tidak ke Barat. Jadi, keren banget itu sebenarnya dialektika politik pada masa itu karena ada orang seperti Buya Hamka yang beda sendiri," kata dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.