REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH — Tentara Pertahanan Israel (IDF) mundur dari Qabatiya, sebuah kota dekat Jenin di wilayah pendudukan Tepi Barat, Palestina yang diduduki, Selasa (24/2/2025) dini hari.
Penarikan tersebut menyisakan rumah-rumah dan toko-toko dalam keadaan hancur serta infrastruktur yang rusak parah. Saksi mata mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan Israel sepenuhnya meninggalkan Qabatiya setelah menangkap beberapa warga serta menghancurkan toko-toko dan fasilitas umum.
Pemerintah Kota Qabatiya melaporkan bahwa tentara Israel merusak jaringan air limbah, listrik, air bersih, dan komunikasi sebelum meninggalkan kota tersebut.
Tentara Israel, Ahad (23/2/2025), memberlakukan jam malam selama 48 jam di Qabatiya. Selama pemberlakuan jam malam itu, buldozer militer menghancurkan infrastruktur kota serta properti publik dan pribadi.

Sementara itu, tentara Israel menggerebek beberapa permukiman di Nablus. Penjajah menerobos masuk ke rumah-rumah warga Palestina, dan menangkap sejumlah orang.
Sejak bulan lalu, militer Israel terus melakukan operasi di wilayah utara Tepi Barat. Aksi militer itu menewaskan sedikitnya 60 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Penggerebekan ini merupakan bagian dari eskalasi militer Israel yang terus berlanjut di Tepi Barat.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 923 warga Palestina di Tepi Barat telah terbunuh dan hampir 7.000 lainnya terluka akibat serangan tentara dan pemukim ilegal Israel sejak Tel Aviv melancarkan perang genosidanya di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023.
Mahkamah Internasional (ICJ) pada Juli 2024 menyatakan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal, dan menuntut evaluasi segera seluruh permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.