Selasa 26 Mar 2024 23:47 WIB

MUI: Ada Perasaan Dilematis AS dalam Sikap Abstain di DK PBB Terkait Genjatan Senjata 

Abstainnya AS dalam voting resolisi tersebut membuat marah Perdana Menteri Israel.

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Muhammad Hafil
Ketua MUI Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim
Foto: Istimewa
Ketua MUI Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Amerika Serikat abstain dalam voting resolusi genjatan senjatan di Jalur Gaza di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). AS tidak menggunakan hak vetonya sebagaimana yang sering mereka lakukan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menilai sikap abstain AS tersebut di luar dugaan. Namun Prof Sudarnoto melihat bahwa dibalik sikap abstain mereka terdapat perasaan dilematis.

Baca Juga

Dengan sikap abstain tersebut maka AS berpotensi akan kehilangan mitra strategisnya di Timur Tengah dengan Israel. Di sisi lain, jika mengikuti kehendak Israel, Negeri Paman Sam ini akan kian kehilangan kepercayaan dari dunia internasional yang akan berdampak buruk terhadap politik, ekonomi dan kemanusiaan.

"Karena itu sikap absen Amerika merupakan jalan yang dianggap paling aman di antara pilihan yanf sangat berisiko di mata Israel. Ditambah lagi reaksi yang cukup luas di Amerika atas kebijakan-kebijakan Amerika terkait Timur Tengah yang sangat menunjukkan keberpihakan terhadap Israel sampai ke tingkat yang sangat ekstrem membiarkan genosida," ujar Prof Sudarnoto kepada Republika.co.id, Selasa (27/3/2024).

Prof Sudarnoto menambahkan secara moral, AS mulai kehilangan kepercayaan publik internasional. Tekanan publik di Amerika sendiri pun kian kuat yang meminta agar mendorong Israel menghentikan genosida terhadap Palestina. Apalagi tahun ini, AS akan menghadapi pemilihan presiden.

Namun Prof Sudarnoto menilai setidaknya ada tiga hak yang perlu ditekankan pasca resolusi ini. Pertama bantuan kemanusiaan ke Gaza Palestina semestinya lebih aman. Kedua, Israel harus mengikuti perintah resolusi DK PBB untuk menarik pasukannya dari Gaza. Dan yang ketiga adalah tawanan perang harus dibebaskan.

"Tapi pertanyaanya apakah Israel mau mematuhi resolusi ini," kata Prof Sudarnoto.

Abstainnya AS dalam voting resolisi tersebut membuat marah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Atas bentuk kekecewaannya terhadap AS, Netanyahu membatalkan kunjungan delegasi tingkat tinggi ke Washington yang dijadwalkan akan membahas rencana operasi militer Israel ke Kota Rafah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement