Senin 12 Feb 2024 15:52 WIB

6 Pegangan Hidup yang Diajarkan Ulama Ini untuk Keselamatan Dunia Akhirat

Umat Muslim seyogianya mempunyai pegangan hidup

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Muslimah berdoa di pertandingan,. Umat Muslim seyogianya mempunyai pegangan hidup
Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Ilustrasi Muslimah berdoa di pertandingan,. Umat Muslim seyogianya mempunyai pegangan hidup

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam mengarungi hidup di dunia, manusia apalagi umat Islam penting memiliki pegangan hidup. Pegangan hidup itu, antara lain sebagaimana disarikan para ulama dari dua pusaka warisan utama Rasulullah SAW, yaitu Alquran dan sunahnya yang agung. 

Dikisahkan suatu ketika di zaman dulu, Syaqiq Al-Balkhi seorang sufi dan ulama besar yang zuhud berkata kepada muridnya bernama Hatim Al-Asham yang juga ulama besar dan zuhud. Ketika itu, Hatim Al-Asham telah belajar sekitar 30 tahun kepada Syaqiq Al-Balkhi.

Baca Juga

Syaqiq Al-Balkhi bertanya kepada muridnya, "Apa yang telah kamu pelajari dariku sejak kamu mengikutiku (selama 30 tahun)?" Hatim Al-Asham berkata, "Ada enam perkara."

Hatim Al-Asham menjelaskan enam hal yang telah dia simpulkan dari hasil pelajarannya selama sekitar 30 tahun untuk jadi pegangan hidup.

 

Hatim Al-Asham berkata, "Pertama, aku melihat manusia ragu dalam masalah rezeki, mereka kikir terhadap apa yang ada pada mereka, rakus dan tamak terhadap harta. Maka aku bertawakal kepada Allah, karena Allah berfirman: وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا 'Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah' (Quran Surat Hud ayat 6). Karena aku termasuk makhluk Allah yang melata di permukaan bumi ini, maka aku tidak ingin menyibukkan hatiku terhadap sesuatu yang telah dijamin Allah Yang Mahakuat dan Kuasa." 

Menanggapi hal itu, Syaqiq Al-Balkhi berkata, "Kamu benar."

Hatim Al-Asham berkata lagi, "Kedua, aku melihat setiap manusia itu memiliki teman tempat ia mencurahkan rahasianya dan mengadukan perkaranya, akan tetapi mereka tidak bisa menyimpan rahasia dan tidak dapat menolak ketetapan. Maka, aku jadikan amal shaleh sebagai temanku agar amal shaleh itu menjadi penolong bagiku ketika hisab dan meneguhkanku di hadapan Allah, menemaniku pada titian shirathal mustaqim." 

Syaqiq Al-Balkhi berkata lagi kepada Hatim Al-Asham, "Kamu benar."

Hatim Al-Asham berkata, "Ketiga, aku melihat setiap orang memiliki musuh. Menurutku, orang yang menegurku bukanlah musuhku. Demikian juga dengan orang yang berbuat zalim kepadaku dan orang yang menyakitiku. Karena sesungguhnya ia memberikan hadiah amal baiknya kepadaku, sedangkan ia memikul beban kesalahan dan dosaku." 

"Akan tetapi musuhku adalah, jika aku berada dalam ketaatan kepada Allah, ia menggodaku agar berbuat maksiat kepada Allah. Menurutku dia adalah iblis, nafsu, keduniawian dan godaan. Maka, aku jadikan semua itu sebagai musuh. Aku berhati-hati terhadap semua itu. Aku persiapkan persiapan untuk memerangi semua itu. Aku tidak membiarkan satu pun dari mereka mendekatiku." 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement