Jumat 09 Feb 2024 11:06 WIB

AS Peringatkan Serangan Israel ke Rafah akan Berujung Bencana

Setengah populasi Gaza saat ini berdesakan di Rafah.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
  Anak-anak pengungsi Palestina bermain sepak bola di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 8 Februari 2024.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Anak-anak pengungsi Palestina bermain sepak bola di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 8 Februari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, Pasukan Israel mengebom wilayah di sekitar Kota Rafah tempat lebih dari setengah warga Gaza mengungsi. Amerika Serikat (AS) memperingatkan melanjutkan operasi militer di kota itu akan menyebabkan bencana. Lembaga-lembaga kemanusiaan memperingatkan bencana kemanusiaan bila Israel melanjutkan serangannya ke Rafah. Salah satu dari sedikit wilayah yang tersisa bagi warga Gaza untuk mencari tempat perlindungan.

"Untuk menggelar operasi semacam itu saat ini, tanpa perencanaan dan pertimbangan di area, di mana 1 juta orang mencari perlindungan akan menjadi bencana," kata deputi juru bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel seperti dikutip Aljazirah, Kamis (9/2/2024).

Baca Juga

Ia mengatakan Washington belum melihat "bukti serius adanya perencanaan operasi" di Rafah. Sebelumnya Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan lebih dari 1 juta warga sipil terjebak di kota sebelah selatan Gaza itu. "Setengah populasi Gaza saat ini berdesak-desakan di Rafah, mereka tidak memiliki tempat untuk pergi," katanya.

Rakyat Palestina di Gaza berharap gencatan senjata dapat dilakukan sebelum Israel menyerang Rafah. Puluhan ribu pengungsi tinggal di tenda-tenda sementara dekat perbatasan Palestina-Mesir.

 

Warga mengatakan pada Kamis pagi pesawat-pesawat Israel membom sebagian kota itu, menewaskan sedikitnya 14 orang dalam serangan pada dua rumah. Tank-tank Israel juga menembaki wilayah timur Rafah, membuat warga semakin khawatir serangan akan segera dilakukan.

Peringatan PBB dan AS disampaikan saat para diplomat berusaha meraih kesepakatan gencatan senjata usai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak proposal Hamas. Namun tanda-tanda upaya diplomasi belum berakhir, delegasi yang dipimpin pejabat senior Hamas, Khalil Al-Hayya tiba di Kairo untuk melakukan pembicaraan dengan mediator negosiasi yakni Mesir dan Qatar.

Pada Rabu (7/2/2024) Netanyahu mengatakan proposal yang diusulkan Hamas "delusional" dan berjanji untuk melanjutkan perang. Ia mengatakan kemenangan akan segera diraih beberapa bulan ke depan.

Meski Israel menolak proposal Hamas, semakin banyak perundingan yang direncanakan. Dalam turnya ke Timur Tengah pekan ini Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga bertemu dengan mediator. Ia mengatakan masih ada ruang untuk negosiasi.

Blinken juga mengatakan jumlah korban jiwa dari warga sipil sudah terlalu tinggi. Ia menegaskan kembali operasi Israel di Gaza harus mengutamakan warga sipil. "Dan hal terutama berlaku dalam kasus Rafah, di mana sekitar 1,2 sampai 1,4 juta orang berada, banyak di antara mereka mengungsi dari wilayah lain di Gaza," katanya.

Blinken mengatakan dalam pembicaraannya dengan pejabat pemerintah Israel ia sudah menyarankan beberapa cara untuk meminimalisir kerusakan. Blinken pulang ke AS pada Kamis, (8/2/2024).

Sumber keamanan Mesir mengatakan delegasi Hamas di Mesir akan bertemu sejumlah pejabat termasuk kepala intelijen Mesir Abbas Kamel. Hamas mengusulkan gencatan senjata berlangsung selama empat setengah bulan, dalam periode itu mereka akan membebaskan sisa sandera yang masih ditawan.

Hamas juga meminta Israel menarik pasukannya dan kesepakatan untuk mengakhiri serangan di Gaza. Proposal ini merupakan tanggap dari proposal yang disusun kepala intelijen AS dan Israel dan dikirimkan Qatar dan Mesir ke Hamas pekan lalu.

Hamas mengatakan tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang tidak mencakup kesepakatan yang mengakhiri serangan dan penarikan pasukan Israel. Sementara Israel mengatakan tidak akan menarik pasukannya sampai Hamas berhasil ditumpas.

Israel menggelar serangan skala besar usai serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober lalu. Israel mengklaim Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera 253 lainnya dalam serangan itu.

Pada Kamis kemarin militer Israel mengatakan beberapa hari terakhir pasukannya membunuh lebih dari 20 pejuang di Khan Younis di selatan Gaza. Kota itu kini menjadi medan pertempuran paling intens.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan setidaknya sudah 27.840 orang dikonfirmasi tewas dan 67 ribu orang terluka dalam serangan Israel. Israel melanjutkan pengeboman di Khan Younis dan Deir el-Balah di Gaza tengah, menewaskan jurnalis televisi Nafez Abdel-Jawwad dan putranya.

Kementerian Informasi Gaza mengatakan setidaknya sudah 124 jurnalis dan perwakilan media yang tewas di kantong pemukiman itu. Di media sosial X, Kepala bantuan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan lembaganya dilarang membawa makanan ke area yang warganya berada di jurang kelaparan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement