Jumat 26 Jan 2024 08:27 WIB

AS dan Irak Memulai Pembicaraan untuk Mengakhiri Koalisi Militer 

ISIS sudah dikalahkan dan tugas koalisi sudah selesai.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Layanan darurat membersihkan puing-puing rumah Peshraw Dizayi yang terkena serangan rudal Iran di Irbil, Irak, Selasa, (16/1/ 2024).
Foto: AP Photo/Julia Zimmermann
Layanan darurat membersihkan puing-puing rumah Peshraw Dizayi yang terkena serangan rudal Iran di Irbil, Irak, Selasa, (16/1/ 2024).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kementerian Luar Negeri Irak mengatakan Baghdad dan Washington sepakat untuk membentuk komite untuk membahas masa depan koalisi militer yang dipimpin Amerika Serikat (AS) di Irak. Dengan tujuan menetapkan waktu tahapan penarikan pasukan dan dibubarkannya koalisi.

AS memiliki 2.500 pasukan di Irak untuk memberi saran dan membantu pasukan setempat untuk mencegah bangkitnya ISIS yang menguasai banyak wilayah di Irak dan Suriah sebelum akhirnya dikalahkan. Ratusan pasukan yang sebagian besar dari negara-negara Eropa bergabung dalam koalisi tersebut.

Baca Juga

Pemerintah Irak mengatakan ISIS sudah dikalahkan dan tugas koalisi sudah selesai. Tapi Irak ingin mengeksplorasi hubungan bilateral dengan negara anggota koalisi termasuk kerja sama latihan dan peralatan militer.

Irak juga mengatakan kehadiran koalisi menjadi magnet pada instabilitas di tengah serangan milisi yang didukung Iran ke pangkalan yang menampung pasukan AS semakin sering sejak perang Israel ke Gaza tiga bulan yang lalu. Pada Rabu (24/1/2024) kemarin dilaporkan AS dan Irak menginisiasi pembicaraan pembubaran koalisi.

Pada Kamis (25/1/2024) pejabat AS dan Irak mengatakan prosesnya diperkirakan berbulan-bulan bila tidak lebih lama dengan hasil yang belum jelas dan AS belum akan menarik pasukannya dalam waktu dekat. Washington khawatir penarikan pasukan dapat menciptakan kevakuman keamanan yang dapat diisi Iran atau sel tidur ISIS di gurun masih menggelar serangan skala kecil meski tidak lagi menguasai wilayah.

AS menginvasi Irak dan menggulingkan Saddam Hussein pada tahun 2003. Invasi memicu pemberontakan dan perang antara kelompok etnis dan agama. Sempat menarik pasukannya pada 2011 tapi kembali mengirim ribuan tentara setelah ISIS bangkit di negara itu tiga tahun kemudian.

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement