Selasa 05 Dec 2023 20:09 WIB

Ternyata Bukan Cuma Palestina, Ini Negara-Negara yang Masuk Daftar Calon Koloni Yahudi 

Tokoh Zionisme Israel Theodor Herzl munclkan kandidat tanah dijanjikan

Warga menginjak spanduk bergambarkan Bendera Israel (Ilustrasi). Tokoh Zionisme Israel  Theodor Herzl munclkan kandidat tanah dijanjikan
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga menginjak spanduk bergambarkan Bendera Israel (Ilustrasi). Tokoh Zionisme Israel Theodor Herzl munclkan kandidat tanah dijanjikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Sejarah Israel modern tak pernah luput dari jejak wartawan. Sejak era Theodor Herzl hingga kini. Pada 1894, Herzl meliput persidangan Alfred Dreyfus, seorang Yahudi Prancis yang didakwa menjadi mata-mata Jerman. 

Herzl membenci Dreyfus namun kemudian membelanya mati-matian. Ia 'menemukan' Dreyfus tak bersalah dalam skandal itu dan hanyalah seorang korban anti-Semit yang sedang mewabahi Eropa.

Baca Juga

Maka, saat orang-orang Eropa berteriak, 'Death. Death to the Jews,' Herzl justru melobi tokoh-tokoh penting Eropa demi pembebasannya. Bagi wartawan Yahudi Austro-Hungaria itu, Dreyfus adalah simbol ketidakadilan Eropa terhadap Yahudi.

Dreyfus mendapatkan maaf pada 1899. Namun, sejak dua tahun sebelumnya, Herzl telah melangkah lebih jauh lagi. Dia menggelar Kongres Yahudi pertama di Basel dengan tujuan mendirikan negara Yahudi.

Sebagai wartawan, Herzl terobsesi pada Cecil John Rhodes, tokoh imperialis Eropa. Pada 1895, Rhodes menduduki tanah milik bangsa Matabele dan Mashona di Afrika dan mendirikan di atasnya negara Rhodesia.

Tercatat dalam bukunya, Der Judenstaat (Negara Yahudi), Herzl belajar banyak dari Rhodes. Ia menggunakan taktik Rhodes dengan memanipulasi perdagangan untuk mendapatkan tanah bagi koloni Yahudi. Para tuan tanah didekati. Orang-orang miskin, yang jumlahnya paling banyak, dikeluarkan dengan rekayasa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Semula Herzl memikirkan Palestina dan Argentina sebagai bakal wilayah Yahudi. Namun, ia kemudian sempat pula mewacanakan pendudukan di Afrika Timur, Sinai, Siprus, dan Kenya. Akhirnya, ia memilih Palestina karena berada pada ''wilayah yang dijanjikan Tuhan''.

Menurut Ritchie Ovendale (The Origins of The Arab-Israel Wars, 1984), Herzl mengajukan proposal negeri Yahudi kepada sejumlah pemimpin negara. Ia mengiming-imingi mereka bantuan keuangan, karena Yahudi adalah penguasa perbankan. Inggris menolak. Mesir menolak. Arab Saudi menolak.

Sultan Hamid II dari Turki yang de facto saat itu menguasai wilayah Palestina pun menolak. Herzl menawarinya bantuan pengelolaan keuangan sebagai imbalan, namun Sultan mengatakan, ''Palestina bukan untuk agama tertentu semata.''

Herzl meninggal pada 1904, sebelum negara Yahudi terbentuk. Namun, sang wartawan tetap hadir di benak kaum Yahudi sebagai mitos bahkan 'nabi Zionisme'. Dalam catatan hariannya, Herzl menulis telah mendirikan negara Yahudi pada Kongres Zionis pertama di Basel.

Baca juga: Heboh Wolbachia, Ini Tafsir dan Rahasia Nyamuk yang Diabadikan Alquran Surat Al-Baqarah

Berdasarkan klaim teologis dan dukungan dari Deklarasi Balfour tahun 1917, warga Yahudi mulai menguasai Palestina. Tokoh Zionis Yahudi menyebarkan opini bahwa Palestina adalah Tanah air tanpa rakyat yang diperuntukkan bagi Yahudi.

Pada 1917, terdapat sekitar 600 ribu orang Arab di Palestina dan sekitar 60 ribu orang Yahudi. Pada 1947, warga Yahudi hanya berjumlah 608.225 jiwa, sedangkan Arab Palestina mencapai 1.237.332 jiwa.

Mulai 1936-1939, pemerintah Mandat Inggris bersama kekuatan Zionis, melakukan pembantaian terhadap warga Palestina. Tanggal 18 Juni 1936, 6.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sekitar 196 pejuang Palestina dihukum gantung dan 50 ribu  orang terbunuh serta 300 orang di penjara seumur hidup. 

photo
Sejarah Perlawanan Palestina - (Republika)
photo
Sejarah Perlawanan Palestina - (Republika)

sumber : Dok Istimewa
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement