Senin 27 Nov 2023 16:57 WIB

Sesaleh Apa Pun Seseorang Tetap Mempunyai Rasa Cinta Dunia, Tetapi ...

Kecintaan terhadap dunia adalah manusiawi.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi orang saleh. Kecintaan terhadap dunia adalah manusiawi
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ilustrasi orang saleh. Kecintaan terhadap dunia adalah manusiawi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dunia dengan segala keindahan di dalamnya memang ditakdirkan untuk menemani perjalanan hidup manusia. Sesaleh apapun seseorang, Allah SWT mengizinkan baginya untuk mencintai dunia hanya saja Allah SWT berikan padanya pilihan.  

Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH Faiz Syukron Makmun menjelaskan, di dalam hidup itu tidak ada orang yang tidak cinta dengan dunia.

Baca Juga

"Zuyyina linnasi hubbu syahwat, manusia manapun pasti suka dunia dan syahwat. Sesaleh-salehnya orang pasti dia bisa bedain merah seratus ribu dengan merah yang sepuluh ribu," kata Kiai Faiz dalam kajian alumni Daarul Rahman, dikutip Senin (27/11/2023).  

Namun demikian, ia bisa diselamatkan dari dunia ketika ia berpegang teguh pada cahaya keimanan. Contohnya adalah sebuah kisah dalam riwayat Nabi Muhammad SAW dengan kaum Muslimin Anshar dalam peristiwa pasca-perang Hunain.

 

Ketika itu, kata Kiai Faiz, Nabi SAW membawa banyak harta kekayaan yang berlimpah sepulang dari Perang Hunain. Alih-alih memberikan harta nan berlimpah itu kepada kaum Anshar yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia Nabi SAW bahkan ketika Nabi SAW terusir dari Makkah, Nabi SAW justru memberikan seluruh harta tersebut kepada kaum Muhajirin. 

Yang mana diketahui, kaum Muhajirin adalah umat Islam dari Makkah yang juga sama-sama orang Quraisy seperti Nabi SAW. 

Dalam hal perjuangan dan keimanan, kaum Muhajirin jauh berbeda dengan kalangan Anshar. Bahkan keistimewaan kaum Anshar telah Allah SWT puji dan diabadikan dalam Alquran. 

Namun sikap Nabi SAW usai Perang Hunain itu membuat kalangan Anshar cemburu dan silau harta. Mereka kemudian menggunjing Nabi SAW hingga ramai ke seluruh telinga masyarakat Anshar. Kemudian sampailah gunjingan tersebut kepada Nabi SAW melalui kabar yang diberikan kepada pemimpin Anshar, Saad bin Ubadah. 

"Lalu, apa yang terjadi? Nabi SAW pun mengumpulkan kaum Anshar dan memberikan penjelasan. Kata Nabi SAW, kalau kalian berbicara hal demikian (tentang harta yang diberikan kepada kaum Muhajirin) di depan saya, maka yang kalian omongin itu benar dan fakta. Tapi mengapa saya lakukan itu? Kata Nabi SAW,"

Baca juga: Tujuh Kerugian Ekonomi Zionis Israel Akibat Agresinya di Jalur Gaza

Kiai Faiz menyebut, Rasulullah SAW memberikan harta perang kepada kaum Muhajirin lantaran iman mereka yang masih tipis sehingga Nabi SAW berharap, diberikannya harta tersebut dapat membuat hati mereka senang dan senantiasa berada di dalam keimanan dan perjuangan kepada Islam. 

Yang lebih penting dari itu, kata Nabi SAW sebagaimana dikutip Kiai Faiz, karena bentuk kecintaan yang luar biasa Nabi SAW kepada kaum Anshar. Yang mana beliau hendak pulang dan menetap di Madinah membersamai kaum Anshar. 

"Seandainya tidak ada peristiwa hijrah maka jika boleh memilih, kata Nabi SAW, saya akan memilih menjadi kelompok Anshar. Maka mendengar Nabi SAW bicara begitu, kaum Anshar mengerti dan berharap Nabi SAW senantiasa berada di Madinah membersamai mereka," kata Kiai Faiz.   

photo
Amalan sederhana pebuka pintu surga. - (republika)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement