Ahad 12 Nov 2023 19:59 WIB

PBB Sebut tidak Ada Tempat Aman di Gaza, tak Terkecuali Rumah Sakit

PBB menyebut warga sipil Gaza terancam meski berada di rumah sakit

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah
Warga Palestina memeriksa kerusakan masjid yang hancur akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rabu, (8/11/2023).
Foto: AP Photo/Mohammed Dahman
Warga Palestina memeriksa kerusakan masjid yang hancur akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rabu, (8/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Sabtu (11/11) mengungkapkan bahwa “tidak ada tempat aman” di Kota Gaza dan pihaknya juga menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan infrastruktur sipil.

''Tidak ada tempat aman, bahkan rumah sakit dan sekolah juga tidak aman,'' tulis OCHA di X.

Baca Juga

''Warga sipil dan fasilitas sipil harus selalu dilindungi. Infrastruktur dan layanan penting di Gaza mengalami kerusakan yang signifikan, sehingga mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk menjaga martabat mereka,'' katanya.

OCHA menekankan bahwa 279 sekolah dan 135 fasilitas kesehatan, di mana banyak orang berlindung, terkena imbas dan rusak.

 

Dalam unggahan terpisah, kepala bantuan PBB menegaskan bahwa "tidak ada pembenaran atas tindakan perang di fasilitas layanan kesehatan, yang membuat fasilitas tersebut tidak memiliki aliran listrik, makanan dan air, serta penembakan terhadap pasien dan warga sipil yang berupaya menyelamatkan diri."

''Ini tidak masuk akal, pantas dihukum dan harus dihentikan,'' kata Martin Griffiths di X.

''Rumah sakit harus menjadi tempat yang lebih aman dan mereka yang membutuhkan itu harus yakin bahwa rumah sakit adalah tempat berlindung dan bukan tempat perang,'' katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan korban yang menghancurkan, dengan seorang anak tewas setiap 10 menit di tengah kampanye militer Israel yang tanpa henti.

''Seorang anak dibunuh rata-rata setiap 10 menit di jalur Gaza,'' kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus dilansir dari New Arab, Sabtu (11/11/2023).

Hal ini disampaikan Tedros kepada Dewan Keamanan PBB oada Jumat (10/11/2023) lalu seraya memperingatkan bahwa sata ini sudah tidak tempat yang aman bagi anak-anak.

Dia mengatakan bahwa setengah dari 36 rumah sakit Gaza dan dua pertiga dari pusat perawatan kesehatan primernya tidak berfungsi, dan mereka yang beroperasi jauh di luar kapasitas mereka, menggambarkan sistem perawatan kesehatan telah berlutut.

''Koridor rumah sakit dipenuhi dengan yang terluka, yang sakit, dan sekarat. Morgues meluap. Pembedahan tanpa anestesi. Puluhan ribu orang terlantar berlindung di rumah sakit,'' kata Tedros kepada dewan beranggotakan 15 orang.

Baca juga: Mengapa Malaikat Jibril Disebut Ruh Kudus dalam Alquran?

Israel meluncurkan kampanye militer tanpa henti di Jalur Gaza pada 7 Oktober, menewaskan lebih dari 11 ribu orang Palestina, termasuk 4.506 anak-anak, 3.027 wanita, dan 678 orang tua, dan melukai lebih dari 27.490.

Pasukan Israel juga memberlakukan pengepungan di kantong 2,3 juta orang, menghentikan masuknya pasokan medis, bahan bakar, air, dan makanan yang sangat dibutuhkan.

''Sejak 7 Oktober, WHO telah memverifikasi lebih dari 250 serangan terhadap perawatan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat,'' kata Tedros. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement