Jumat 27 Oct 2023 16:59 WIB

Siapa yang Disebut Sebagai Santri?

Peran santri terlihat jelas dari jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi Santri
Foto: Thoudy Badai_Republika
Ilustrasi Santri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peringatan Hari Santri Nasional boleh jadi sebuah pengingat bangsa bahwa kiprah santri untuk bangsa ini seiring berjalan berdampingan dengan peradaban Indonesia. Lantas, siapakah yang disebut sebagai santri itu? Sudahkah kita mengenal siapa santri itu?

Buya Syafii Maarif dalam buku Islam dan Politik menjabarkan bagaimana keterlibatan santri dalam politik bangsa ini. Bahkan peran santri terlihat jelas dari jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka dan kiprah santri mewarnai catatan sejarah politik di negeri ini.

Baca Juga

Adapun terminologi santri yang dimaksud Buya Syafii adalah mereka yang dibentuk dan berkembang dalam lingkungan kultural partai-partai dan organisasi-organisasi Islam sejak dekade kedua abad ke-20. Misalnya, Syarekat Islam (SI), Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, Nahdlatul Ulama (NU), Al-Washliyah, Persatuan Umat Islam (PUI), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Nahdlatul Wathan (NW), Masyumi, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dan lainnya.

Sejak Dekrit 5 Juli 1959 yang menjadi tonggak Orde Lama (1959-1966) hingga tumbangnya Orde Baru (1966-1998), kelompok-kelompok santri tersebut telah lumpuh secara politik dan ekonomi. Hal itu disebabkan tidak terlatihnya mereka untuk menjadi dewasa dalam percaturan perpolitikan nasional.

Masyumi sebagai federasi reformis dari beberapa kelompok di atas terlalu pendek usianya alias bubar pada 1960 di usia bangsa yang relatif masih sangat pendek. Sehingga runtuhnya Masyumi belum berhasil membangun sebuah tradisi politik yang kukuh bagi pengikutnya. Meskipun warisan moral politiknya tetap mengilhami sebagaian anak cucunya sampai hari ini.

Baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kedua rezim ini sama-sama berujung pada hirarki dan malapetaka sejarah yang meliputi konflik politik, ekonomi, dan moral. Menurut Buya Syafii, pada kedua periode tersebut, Pancasila, bahkan agama, selalu dimuliakan dan digunakan dalam kata dan tulisan. Namun faktanya, Pancasila dan agama kerap dilecehkan dan dikhianati dalam perangai dan perbuatan.

Misalnya, meskipun kedua rezim...

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement