Senin 23 Oct 2023 22:25 WIB

Doa Bersama Lintas Agama untuk Palestina

Peserta aksi damai menyerukan diakhirinya pembantaian terhadap warga Palestina.

Doa bersama di Lapangan Masjid Al Azhar, Jakarta, Sabtu (21/10)
Foto: Aqsa Working Group
Doa bersama di Lapangan Masjid Al Azhar, Jakarta, Sabtu (21/10)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lembaga Kepalestinaan Aqsa Working Group (AWG) menggelar Aksi Damai dan Doa Bersama Lintas Agama Pemuda Indonesia untuk Palestina.

Acara yang digelar pada Sabtu (21/10) pukul 08.00 WIB, di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dihadiri lebih 1.000 peserta dari beberapa organisasi lintas agama.

Peserta aksi damai yang terdiri dari berbagai kalangan menyerukan diakhirnya pembantaian terhadap warga Palestina dan dibukanya koridor bantuan kemanusiaan di Gaza.

Kekejaman yang dilakukan oleh pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina sudah melampaui batas norma agama dan kemanusiaan. Sehingga permasalahan Palestina bukan hanya persoalan Umat Islam saja.

 

Presidium AWG Muhammad Anshorullah yang juga Kordinator Acara mengatakan, Aksi ini dilatarbelakangi oleh serangan Zionis Israel yang menyasar rumah warga, sekolah, rumah sakit, masjid, bahkan gereja, yang merupakan tempat-tempat yang tidak boleh diserang menurut hukum humaninter internasional.

Hadir menyampaikan orasi antara lain, Pembina AWG Imaam Yakhsyallah Mansur, Wakil Duta Besar Palestina untuk Indonesia Ahmed MI Metani, Ketua Umum YPI Al-Azhar Dr Fuad Bawazier, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad dan Ketua Presidium AWG Nur Ikhwan Abadi.

Para peserta Aksi Bela Palestina terpantau membentangkan bendera Indonesia dan Palestina berukuran raksasa di lapangan tersebut. Selain itu, para peserta menampilkan poster dan menyampaikan yel-yel Solidaritas Palestina.

Ketua Presidium AWG, Nur Ikhwan Abadi dalam orasinya menyampaikan, pada aksi ini, AWG menyerukan beberapa poin di antaranya: seret rezim Benjamin Netanyahu dan Zionis Israel ke Mahkamah Kejahatan Internasional sebagai penjahat perang, boikot produk Zionis Israel dan sekutunya, stop pembunuhan anak Palestina, dukung pejuang Palestina merebut kemerdekaannya, pemuda Indonesia bergerak bersama untuk Palestina, rakyat Palestina berhak merebut kemerdekaan mereka dan Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas kezaliman Zionis.

"AWG menyerukan seluruh elemen masyarakat dari berbagai kalangan agar bersatu dalam Aksi Damai dan Doa Bersama Lintas Agama Pemuda Indonesia untuk Palestina ini, demi kemanusiaan, keadilan dan perdamaian dunia," ujar Nur Ikhwan.

Ketua Presidium Lembaga Kegawatdaruratan Medis, MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad mendesak pemerintah Indonesia secepatnya harus mengirim bantuan kemanusiaan ke Palestina.“Kita meminta pemerintah Indonesia khususnya agar secepatnya memberi bantuan kemanusiaan dan membuka koridor kemanusiaan, minta kepada Mesir dan kepada Amerika Serikat agar akses kemanusiaan dibuka,” kata Sarbini dalam orasinya.

“Saya yakin seluruh rakyat Indonesia akan menyumbangkan apa pun untuk Palestina. Oleh sebab itu kemampuan negara kita diharapkan untuk bisa melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dan diplomatik, khususnya kepada Mesir agar dibuka pintu Rafah, pintu kemanusiaan. Itu bisa membantu saudara-saudara kita yang pada hari ini kurang makanan, kurang obat obatan dan listrik,” tambahnya.

Sementara Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar Dr. Fuad Bawazier mengatakan, Palestina merupakan satu-satunya negeri di dunia yang hingga saat ini belum merdeka.“Kita tidak berbicara mengenai Hamas atau militan tapi berbicara mengenai tanah Palestina, bangsa Palestina yang hanya satu-satunya negeri di dunia yang masih tersisa penjajahan,” kata Fuad dalam orasinya.

Sedangkan RI, dalam pembukaan UUD 1945 adalah menghapuskan semua penjajahan di muka bumi. Untuk itu, Fuad mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk turut mendukung kemerdekaan Palestina.

Fuad juga mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk tidak terpengaruh narasi-narasi bohong Israel dan sekutunya yang menuduh para pejuang Palestina sebagai teroris atau ektremis.“Begitulah cara mereka membungkam kita dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan tentang sejarah bahwa Indonesia merdeka pertama kali yang mengakuinya adalah bangsa Palestina.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement