Sabtu 19 Aug 2023 13:54 WIB

PBB Tangguhkan Layanan karena Pasukan Bersenjata di Sekolah Palestina di Kamp Lebanon

UNRWA menegaskan seruannya pada orang bersenjata untuk segera pergi dari sekolah.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
Bendera Palestina yang robek berkibar di kamp pengungsi Palestina Bourj al-Barajneh, di Beirut, Lebanon, Jumat, 21 Oktober 2022.
Foto: AP Photo/Bilal Hussein
Bendera Palestina yang robek berkibar di kamp pengungsi Palestina Bourj al-Barajneh, di Beirut, Lebanon, Jumat, 21 Oktober 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Sebuah badan PBB telah menangguhkan layanan di kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon untuk memprotes kehadiran pejuang bersenjata di sekitar sekolah dan fasilitas lainnya di daerah tersebut.

"Badan itu tidak mentoleransi tindakan yang melanggar kenetralan dan tidak dapat diganggu gugat dari instalasinya," demikian Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengatakan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Gulf Times, Jumat (19/8/2023).

Baca Juga

UNRWA menegaskan kembali seruannya pada orang bersenjata untuk segera mengosongkan fasilitasnya, untuk memastikan pengiriman bantuan yang sangat dibutuhkan tanpa hambatan kepada pengungsi Palestina. Sekolah di kamp tidak mungkin tersedia untuk 3.200 anak pada awal tahun ajaran baru, jika hal tersebut tidak diikuti.

Ada sekitar 400 ribu pengungsi yang tinggal di 12 kamp Palestina di Lebanon, sejak perang 1948 antara Israel dan tetangga Arabnya. Bentrokan mematikan pecah di kamp Ain el-Hilweh pada bulan lalu setelah orang-orang bersenjata mencoba membunuh Mahmoud Khalil yakni seorang pemimpin faksi politik Palestina Fatah, yang memaksa ratusan orang melarikan diri.

Didirikan pada tahun 1949 setelah perang Arab-Israel pertama, UNRWA menyediakan layanan publik termasuk sekolah, layanan kesehatan primer, dan bantuan kemanusiaan di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Suriah, dan Lebanon.

Selama 2022 lalu, krisis ekonomi Lebanon yang belum pernah terjadi sebelumnya tidak hanya menghancurkan Lebanon tetapi juga telah memukul para pengungsi Palestina.

Para pengungsi telah tinggal di Lebanon selama beberapa generasi, sejak pembentukan Israel pada 1948 dan kabur dari kamp serupa di Suriah yang menghadapi perang saudara pada 2011.

UNRWA mengatakan, orang-orang Palestina telah jatuh jauh ke dalam kemiskinan. Banyak yang berjuang untuk mendapatkan kehidupan paling sederhana dengan kurang dari dua dolar AS per hari. Sedangkan yang lain mempertaruhkan hidup untuk mencari masa depan yang lebih baik di luar negeri, mencoba penyeberangan berbahaya di Laut Mediterania.

UNRWA mengatakan, kemiskinan telah mencapai 93 persen di antara sekitar 210 ribu warga Palestina di 12 kamp pengungsi Lebanon dan dalam kondisi hidup yang penuh sesak di luar kamp.

Menurut UNRWA, 180 ribu adalah warga Palestina yang telah tinggal di Lebanon selama beberapa dekade, sementara sekitar 30 ribu tiba dari Suriah sejak perang pecah. Ada puluhan ribu lainnya yang belum terdaftar oleh UNRWA tetapi diyakini tinggal di Lebanon. Badan tersebut meminta bantuan 13 juta dolar AS agar dapat memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan.

Dana yang ada nantinya akan langsung diberikan kepada keluarga Palestina dan  uang tunai tersebut akan memungkinkan UNRWA untuk terus menjalankan layanan perawatan kesehatan primer dan menjaga sekolah yang dikelola lembaga tetap buka hingga akhir tahun. Para pengungsi telah mencapai titik terendah di Lebanon.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement