Sabtu 01 Jul 2023 06:45 WIB

Panji Gumilang Bikin Gerakan Pemuda Marhaenis Geram

Mazhab Bung Karno bukanlah mazhab agama melainkan mazhab bernegara.

Pengakuan Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Panji Gumilang kalau ia bermazhab Bung Karno, membuat geram kalangan Pemuda Marhaenis.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pengakuan Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Panji Gumilang kalau ia bermazhab Bung Karno, membuat geram kalangan Pemuda Marhaenis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis (DPP GPM) Bidang Ideologi dan Politik Janu Wijayanto, mengatakan penganut ajaran Bung Karno yang bergabung di lembaganya geram dengan Panji Gumilang, yang membuat kegaduhan. Mereka mempertanyakan maksud klaim Panji Gumilang yang mendeklarasikan diri bermazhab Bung Karno.

"Dimana letak mazhab Bung Karno yang dimaksud Syekh Panji Gumilang pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Indramayu Jawa Barat itu? Mazhab apa yang dimaksud?” tanya Janu, Sabtu (1/7/2023).

Dijelaskannya, Kalaupun ada yang menyebut mazhab terhadap pemikiran Bung Karno maka Mazhab adalah suatu aliran pemikiran yang berisi konsepsi dan ajaran serta teori perjuangan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme yang telah menimbulkan kesengsaraan rakyat Indonesia. Termasuk teori perjuangan untuk menjadikan rakyat Indonesia bisa merdeka berdaulat bahagia adil dan makmur dalam negara Indonesia merdeka berdasar Pancasila.

"Atau yang dikenal dengan marhaenisme,” kata Janu, yang juga alumni Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia ini.

 

Menurut Janu, mazhab yang dalam terminologi kontemporer sering dimaknai aliran pemikiran dalam teori sosial, maka Mazhab Bung Karno bukanlah mazhab agama melainkan mazhab bernegara.

Karya tulis Bung Karno yang terkait tema Islam, kata Janu, bersifat kajian ilmiah dan dalam konteks tafsir sosial kontemporer. Misalnya tulisan berjudul "Memudakan Pemikiran Islam" dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi. Atau dalam tulisan lain seperti "Warisi Api Islamnya Bukan Abunya".

Tulisan itu rata-rata berisi paradigma pembaharuan interpretasi kritis atas pemikiran Islam. Bahkan Bung Karno jelas di dalam melakukan kutipan ilmiah misalnya dari pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh dsb.

“Yang intinya bagaimana mengambil api revolusioner dari pemikiran Islam untuk digunakan bersama anasir bangsa Indonesia lainnya dalam melawan ketidakadilan sistem kolonialisme dan imperialisme saat itu,” papar Janu.

Janu meminta agar Panji Gumilang memperjelas maksud mazhab Bung Karno. Jangan hanya mengambil sebagian saja suatu pendapat dari satu pemikiran utuh.

 

Terlebih pemikiran Bung Karno, yang selama hidupnya diabdikan untuk membangun persatuan Indonesia. “Apalagi jika hal itu hanya untuk menjustifikasi sebuah tindakan, suatu kepentingan tersembunyi, hidden agenda, dan melegitimasi pemikiran tertentu,” kata Janu.

Karena itulah, lanjut dia, aktivis di lembaganya mempertanyakan klaim sepihak Panji Gumilang, yang mengaku bermazhab Bung Karno.  Apalagi jika tindakan dan pemikiran yang dikulik itu berpotensi merusak persatuan nasional di kalangan umat beragama.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement