Rabu 28 Jun 2023 15:39 WIB

Wanita di Shaf Depan Shalat, Panji Gumilang: Itu HAM Menurut Keyakinan Dasar Kami

Pimpinan Al Zaytun Panji Gumilang sebut wanita di shaf depan shalat menjunjung HAM.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Bilal Ramadhan
Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Panji Gumilang. Pimpinan Al Zaytun Panji Gumilang sebut wanita di shaf depan shalat menjunjung HAM.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun Panji Gumilang. Pimpinan Al Zaytun Panji Gumilang sebut wanita di shaf depan shalat menjunjung HAM.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pimpinan Ma'had Al Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, menjelaskan tentang pelaksanaan sholat Id di Ma'had Al Zaytun yang menempatkan wanita di barisan depan atau pada shaf jamaah laki-laki. Panji Gumilang memberikan penjelasannya itu dalam program Kick Andy Double Check yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta. Panji Gumilang mengatakan bahwa dirinya mengedepankan fiqih sosial mengangkat harkat martabat wanita.

"Kemudian kalau hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan sholat kemudian ada wanita, saya mengedepankan fiqih sosial mengangkat harkat martabat wanita yang selama ini terpinggirkan, baru dimulai dalam politik. Itu pun baru 30 persen. Sedangkan pemahaman yang saya punya berdasarkan Alquran sama. Innal muslimina, wal muslimat, wal mu'minina wal muminat wal qonitin wal qonitat. Tidak pernah dikesampingkan, sejajar, nah kalau soal itu saja lantas sesat menyesatkan bagaimana dunia? Itu hak asasi manusia untuk menjalankan ibadah menurut keyakinannya dasar kami di Alquran," kata Panji Gumilang menjawab pertanyaan yang dilontarkan wartawan Andy F Noya. 

Baca Juga

Andy F Noya pun menanyakan tentang cara PG menafsirkan ayat yang berbeda dengan kebanyakan ulama ahli tafsir. "Jangan cari persamaan, kalau persamaan semua selesai dunia ini. Dunia berpikir itu terus berkembang. Berkembang, berkembang begitu juga kita memahami Alquran bukan menafsir, memahami. Itu anggapan yang tidak sama dengan anggapan kita, oke-oke saja wong saya juga tidak menyalahkan orang itu. Inilah kebebasan beragama. Siapapun tidak boleh memberikan stigma," katanya. 

Lebih lanjut Panji Gumilang juga menjelaskan tentang pelaksanaan sholat berjamaah di Ma'had Al Zaytun yang menerapkan jaga jarak yang cukup jauh antar masing-masing orang yang sholat. Menurut Panji Gumilang, pelaksanaan sholat berjamaah dengan jaga jarak telah diterapkan oleh Ma'had Al Zaytun sejak awal Covid-19. 

"Ini peristiwanya terjadi tatkala Covid-19 semua masjid ditutup. Kami tetap berjalan karena kami punya tempat yang lebar. Maka ada personal distancing, dan itu diajarkan oleh Alquran," kata PG.

Panji Gumilang mengatakan video yang beredar di media sosial tentang pelaksanaan sholat Id di Ma'had Al Zaytun yang menjaga jarak adalah video lama saat pelaksanaan sholat Idul Adha atau Idul Fitri saat masih pandemi Covid-19. 

"(Video) yang diambil itu tatkala idul adha atau idul Fitri kemarin. Sudah lama  perjalanan begini, sudah lama, dan jarak-jarak itu pun sudah lama dari mulai diumumkan yang adanya Covid-19, kami sudah ambil jarak, semua lockdown, dan disini semua sholat berjarak, dan terus walaupun ada anjurkan tidak ke masjid, saya jalankan. Siapa yang melarang, Tuhan saja tidak melarang," katanya. 

Panji Gumilang mengatakan kendati presiden telah mencabut status darurat pandemi Covid-19, namun Al Zaytun tetap menerapkan sholat berjamaah dengan menjaga jarak.

"Apakah kita tahu serangan kembali? Tahun 1948 itu ada serangan, hancur Malang itu hancur habis. Seluruh Jawa habis. Pandemi yang namanya flu spanyol atau apa itu, tapi itu tidak diambil pelajaran. Dan terjadi lagi," katanya.

Panji Gumilang mengatakan aturan jaga jarak yang diberlakukan Al Zaytun dalam pelaksanaan sholat berjamaah memiliki dasar baik itu keamanan sesuai aturan yang berlaku maupun dasar menurut agama.

Karena itu ia membantah praktik sholat berjamaah dengan menjaga jarak yang masih diberlakukan Al Zaytun serta praktik sholat berjamaah dengan menempatkan wanita di barisan depan atau pada shaf jamaah laki-laki adalah kesesatan.

"Mau dasar apapun, mau keamanan, itu beragama supaya aman, hidup supaya aman, aman. (Jadi ini bukan ajaran sesat?) Bagaimana sesat wong saya ini takut sesatan. Nggak ada. Saya tidak pernah mengatakan orang lain sesat saya benar. Lah berikan hak juga jangan disesatkan saya. Kan namanya persatuan Indonesia terjangkau," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement