Jumat 23 Jun 2023 14:37 WIB

Pemprov Riau Gandeng MUI untuk Berantas LGBT

LGBT merupakan satu di antara faktor menjadi penyebab dari penyakit HIV/AIDS.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Ani Nursalikah
Sejumlah jamaah melaksanakan sholat di Masjid Raya Nur Alam, Pekanbaru, Riau.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah jamaah melaksanakan sholat di Masjid Raya Nur Alam, Pekanbaru, Riau.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution mengatakan, Pemprov Riau menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberantas fenomena sosial menyimpang di tengah masyarakat, seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Edy menyebut, LGBT merupakan satu di antara faktor menjadi penyebab dari penyakit HIV-AIDS yang dapat merusak generasi masa depan bangsa.

“Tidak cukup permasalahan ini hanya diserahkan kepada pemerintah. Harus dilakukan secara bersama-sama dan terkoordinasi. Oleh karena itulah, saya berharap dalam kesempatan ini saya mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberikan materi-materi mungkin dalam setiap khutbah Jumat ini akan lebih dimasifkan lagi,” kata Edy, Jumat (23/6/2023).

Baca Juga

Edy mengatakan, hal tersebut dalam kegiatan gerakan sholat subuh berjamaah yang ke-132 di Masjid Agung Ar Rahman, Jalan Jendral Sudirman, Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru, Jumat (23/06/2023).

Menurut Edy, tema yang disampaikan pada gerakan sholat subuh berjamaah memang sengaja membahas terkait dengan LGBT. Karena, menurutnya, isu tersbut sudah sangat prihatin, sebab sesuai dari data Dinas Kesehatan Provinsi Riau kasus orang dengan HIV-AIDS (ODHA) di Riau itu ada 3.809 kasus.

“Di Pekanbaru saja ada 2.471 kasus. Kemudian di Indragiri Hilir ada 270 kasus, di Dumai ada 240 belum kabupaten yang lain. Untuk pembagian profesinya yang terbanyak itu dari karyawan 1.238, kasus disusul wiraswasta 749, kasus ibu rumah tangga 521 kasus, kalangan medis pun ada 17 kasus, kemudian narapidana 17 kasus dan banyak yang lainnya,” ujar Edy.

Edy menambahkan, salah satu faktor yang menyebabkan HIV-AIDS ini adalah LGBT. Selain itu, juga adanya faktor dari narkoba yang menggunakan penyuntikan. Dengan begitu, tentunya permasalahan ini sangat memprihatinkan.

Edy berharap MUI di Riau termasuk yang ada di kabupaten/kota lebih memasifkan dan memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui kegiatan gerakan sholat Subuh berjamaah. Kemudian, pada khutbah Jumat dan kesempatan sosial lainnya, bahkan juga mungkin di sekolah-sekolah.

“Sehingga apa yang kita khawatirkan selama ini, bisa kita atasi bersama. Yakinlah anak-anak kita ini menjadi ancaman, cucu-cucu kita nanti menjadi ancaman kalau kita tidak memiliki kepedulian. Dan yakinlah apabila tidak ditangani nanti suatu saat kehancuran itu akan datang," kata Edy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement