Kamis 15 Jun 2023 08:35 WIB

Kiai Cholil: Ukhuwah Holistik Kunci Damai di Tahun Politik

Ukhuwah holistik adalah ukhuwah antarwarga bangsa.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis. Kiai Cholil: Ukhuwah Holistik Kunci Damai di Tahun Politik
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis. Kiai Cholil: Ukhuwah Holistik Kunci Damai di Tahun Politik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada pertengahan 2023 ini, situasi politik di Indonesia mulai mengalami tensi yang meninggi. Pada Februari tahun depan, akan digelar Pemilu 2024 untuk memilih presiden, calon presiden, dan anggota legislatif.

Meskipun tensi politik meninggi, tentu semua pihak berharap tidak diiringi situasi yang menegangkan di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara menggelar acara Silaturahmi dan Halaqah Dakwah Dai dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) pada Selasa (14/6/2023).

Baca Juga

Acara tersebut mengambil tema “Urgensi Peran Dai dan DKM Masjid dalam Membangun Ukhuwah di Tahun Politik”. Kegiatan ini digelar untuk mencegah agar tidak terjadi konflik politik di tengah-tengah masyarakat, khususnya saat memasuki tahun politik.

Acara ini diikuti lebih dari 100 dai-daiyah dan Pengurus Masjid se-Jakarta Utara. Dalam kegiatan ini mengundang narasumber dari MUI Pusat, yaitu Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat, KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat  KH Ahmad Zubaidi, dan Pengurus Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme MUI Pusat, Irjen Pol (Purn) Hamli.

Dalam pemaparannya, Kiai Cholil menjelaskan kunci damai di tahun politik ini adalah kalau masyarakat dapat membangun ukhuwah holistik. “Ukhuwah holistik adalah ukhuwah antarwarga bangsa dengan tidak mengenal sekat-sekat primordial baik karena suku, ras maupun agama atau preferensi politik,” ujar Kiai Cholil dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (15/6/2023).

Dengan ukhuwah holistik, kata Kiai Cholil, persatuan dan kesatuan dapat terjaga ketika ada perhelatan politik sekalipun, karena masyarakat sudah memahami persaudaraan adalah di atas segala-galanya.

Terkait preferensi politik, menurut Kiai Cholil, orang dapat memilih berdasar selera masing-masing, mungkin karena kesamaan suku, agama, ras atau hal-hal lain karena adanya pertemuan emosi. Namun, kata dia, yang terpenting adalah bagaimana satu sama lain tetap saling menghargai dan menghormati.

“Karena itu hasrat politik jangan sampai melupakan seseorang pada ranah-ranah publik yang menjadi simbol pemersatu. Artinya ,ada tempat tertentu yang tidak boleh digunakan untuk kampanye atau untuk mendukung salah satu calon atau pasangan calon, contohnya masjid dan tempat ibadah lainnya,” kata Kiai Cholil.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini menjelaskan, ukhuwah holistik itu melengkapi persaudaraan  yang dibangun oleh peradaban manusia. Manusia selain merekatkan ukhuwah diniyah (persaudaraan kerena sesama agamanya), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), juga ukhuwah insaniyah (persaudaraan manusia membangun peradaban).

“Sebab, seseorang yang menjadi insan karena mampu mengombinasikan secara holistik dan integratif antara keagamaan, kebangsaan, kemanusiaan, sehingga terbangun peradaban manusia yang diikat dengan persaudaraan. Bangsa yang besar dan mampu membangun kedamaian dan peradaban karena mampu membangun persaudaraan holistik (ukhuwah insaniyah),” kata Kiai Cholil menerangkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement