Ahad 28 May 2023 12:59 WIB

Erdogan Dapat Kembali Menang di Daerah Terdampak Gempa

Di pemilihan putaran pertama, Erdogan menangi 7 dari 10 provinsi terdampak gempa

Rep: Lintar Satria/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Spanduk raksasa Presiden Turki dan calon presiden dari Aliansi Rakyat Recep Tayyip Erdogan dipajang di tembok kota bersejarah, di Istanbul, Turki, Sabtu (22/4/2023).
Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Spanduk raksasa Presiden Turki dan calon presiden dari Aliansi Rakyat Recep Tayyip Erdogan dipajang di tembok kota bersejarah, di Istanbul, Turki, Sabtu (22/4/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, KAHRAMANMARAS -- Gundukan puing-puing masih menghalangi jalan di pusat Kahramanmaraş, tiga bulan setelah gempa bumi yang menewaskan 50 ribu mengguncang Turki. Truk-truk menyingkirkan kabel-kabel besi yang pernah menjadi pondasi toko-toko dan restoran di pinggir jalan.

Sementara sejumlah pekerja memungut pecahan kaca dari toko es krim yang terkenal di kota itu. Sebagian besar puing-puing besar dari gedung-gedung yang ambruk sudah disingkirkan. Gedung-gedung yang tersisa rusak dan retak.

Perubahan yang paling terlihat adalah kabin-kabin sementara toko-toko setempat dan papan reklame yang menunjukkan pemilihan umum sedang berlangsung. Seorang pria berusia 18 tahun yang hanya memberi nama depannya Can mengenakan topi bertanda tangan Presiden Tayyip Erdogan saat ia membersihkan puing-puing reruntuhan.

"Ia bekerja sangat keras untuk negara," kata Can pada the Guardian, Jumat (26/5/2023) lalu.

Ia menjelaskan mengapa ia mendukung Erdogan dalam pemilihan putaran kedua pemilihan presiden. Pemilihan yang dinilai tidak hanya berdampak pada Turki tapi juga negara-negara tetangga dan hubungan Ankara dengan Eropa dan Moskow.

Pemilihan tahun ini memberi pilihan pada masyarakat Turki untuk mengakhiri kekuasaan Erdogan yang sudah memimpin selama dua dekade. Di mana ia menggelar reformasi dan pembangunan massif tapi juga membawa Turki ke krisis finansial dan membungkam oposisi-oposisi.

Namun oposisi gagal memanfaatkan putaran pertama untuk menyingkirkan Erdogan. Ketua koalisi oposisi Kemal Kılıçdaroğlu hanya berhasil berada di peringkat kedua.

Keberhasilan Erdogan di putaran pertama paling terlihat di daerah-daerah terdampak gempa. Ia memenangkan tujuh dari 11 provinsi yang terdampak gempa. Hasilnya melampaui perkiraan yang menghitung kemarahan masyarakat terhadap lambatnya respon pemerintah dan tingginya korupsi di sektor konstruksi selama pemerintahan Erdogan.

Hal-hal itu diprediksi akan mengubah suara di Kahramanmaraş yang merupakan kantung suara konservatif. Tapi gempa hanya sedikit merusak citra presiden dan ia memenangkan 72 persen suara di Kahramanmaraş yang mengalami kerusakan terparah.

Dalam pemilihan sebelumnya tahun 2018 lalu Erdogan hanya kalah 2 persen di pemilihan parlemen di Kahramanmaraş. Banyak masyarakat menyalahkan Partai AK tapi bukan Erdogan.

Kılıçdaroğlu sedikit lebih unggul di kota-kota terbesar di Turki dimana inflasi dan krisis ekonomi paling terasa. Namun pesannya gagal mengubah pendirian pemilih di pedesaan seperti Kahramanmaraş.

Pemilih di provinsi-provinsi pedesaan mengatakan mereka tidak yakin dengan oposisi. Mereka justru menyoroti pembangunan di masa pemerintah Erdogan di sektor layanan publik, industri pertahanan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan bandara. Mereka tidak membahas korupsi di sektor konstruksi dan kehancuran di zona gempa.

"Bila ada harga yang harus dibayar, kami berbagi untuk ekonomi," kata salah satu warga Hikmet Bülbül sambil mengawasi rak-rak toko gaun dan mantelnya. Bülbül mengatakan ia menyadari kenaikan harga tapi tidak menghubungkannya dengan kebijakan Erdogan.

"Ya, mungkin Erdogan harus turun, tapi hanya bila siapa pun yang menggantikannya melakukan layanan yang sama," katanya.

Warga Kahramanmaraş lainnya mengeluhkan puing-puing yang belum juga disingkirkan dari jalan. Meski Erdogan berjanji akan membangun kembali rumah yang hancur akibat gempa.

"Saya pikir seharusnya tidak ada satupun orang di Kahramanmaraş memberikan suara sebagai bentuk kritik, saya tidak bisa mengatakan tidak ada yang dilakukan, tapi sangat lambat," kata salah satu warga Kahramanmaraş, Fatma.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement