Sabtu 08 Apr 2023 06:30 WIB

Terpikat Makna 2 Surat Alquran, Mualaf Nathalia: Saya Temukan Konsistensi dalam Islam

Nathalia Costa menemukan kebenaran tauhid dalam Islam

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Nathalia Costa. Nathalia Costa menemukan kebenaran tauhid dalam Islam
Foto: Dok Istimewa
Nathalia Costa. Nathalia Costa menemukan kebenaran tauhid dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nathalia Costa menceritakan, dirinya adalah seorang perempuan keturunan Brasil-Amerika. Sejak Desember 2016 lalu, ia memutuskan untuk menjadi Muslim. Sebelumnya, gaadis berkaca mata ini adalah pemeluk Katolik.

Perpindahannya ke Islam terjadi tidak secara tiba-tiba. Ada proses yang cukup panjang hingga akhirnya hati dan pikirannya mantap memilih agama tauhid. Perkenalannya dengan Islam pun dimulai setelah dirinya beralih dari satu gereja ke gereja lainnya.

Baca Juga

Dari Katolik, Nathalia saat itu menjadi pengikut Presbiterian. Tidak puas, dirinya lalu beralih ke aliran Baptis hingga Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh. Yang membuatnya terus mencari adalah dorongan untuk menemukan kebenaran.

"Ibu saya bilang, kamu tidak tahu, tetapi apa pun yang kaurasakan dalam hati sebagai yang benar, maka itulah kebenaran," ujar Nathalia Costa menirukan penutusan ibunya, seperti dilansir dari KALW, baru-baru ini.

 

Selanjutnya, ia saat itu mencoba beralih ke kepercayaan di luar Nasrani. Bahkan, petualangan dalam hidupnya pun dimulai. Dengan penuh keyakinan, dirinya memutuskan untuk merantau ke luar negeri. Sebuah tawaran datang kepadanya, yakni menjadi pengajar bahasa Inggris di Istanbul Turki.

Selama di kota penghubung dua benua tersebut, Nathalia terus mempertanyakan keimanannya. Walaupun orang-orang Turki kebanyakan Muslim, dirinya belum begitu tertarik untuk mengenal Islam hingga saat itu. Ia masih tertarik pada ajaran Buddha.

Namun, lagi-lagi Nathalia merasa tidak pasti. Konsep ketuhanan dalam agama ini belum begitu meyakinkannya. Sementara, pergaulannya sehari-hari semakin banyak interaksi dengan orang-orang Islam. Beberapa dari mereka bahkan menjadi sahabat terdekatnya.

Maka, ia pun mulai serius mempelajari ajaran Islam. Sejauh yang diketahuinya hingga saat itu, agama tersebut sering dikaitkan dengan radikalisme atau terorisme. Kejadian 9/11 menyebabkan stigma atas Muslimin, khususnya di Amerika Serikat.

Kini, ia sedang bermukim jauh dari Amerika. Budaya di Turki sangat berbeda dengan Amerika Serikat. Suara azan berkumandang mengisi langit tiap lima waktu dalam sehari.

Baca juga: Yang Terjadi Terhadap Tentara Salib Saat Shalahuddin Taklukkan Yerusalem

Masjid-masjid pun jamak ditemui di tiap sudut kota. Para perempuan Muslim menutup rambut mereka dengan kerudung serta mengenakan pakaian longgar. Semua hal itu sangat jarang dijumpainya di negeri asal.

Diakuinya, rutinitas sehari-hari di Istanbul membuatnya semakin tenggelam dalam budaya Islam. Namun, itu justru membuat hati dan pikirannya tenang. Sebab, Nathalia melihat pada kebanyakan kawan-kawannya yang Muslim, hidup mereka seperti sudah terarah jelas.

Suatu hari, seorang temannya meminjamkan terjemahan Alquran dan bukubuku lain tentang Islam kepadanya. Perempuan ini menerima semua itu dengan terima kasih. Setiap hari, bahan bacaan itu dicernanya dengan penuh perhatian.

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement