Jumat 24 Mar 2023 20:02 WIB

Mengapa Berkata Jujur Disandingkan dengan Perintah Beriman dan Bertakwa?

Islam adalah agama yang menekankan kejujuran

Kejujuran (ilustrasi). Islam adalah agama yang menekankan kejujuran
Foto: Antara/Regina Safri
Kejujuran (ilustrasi). Islam adalah agama yang menekankan kejujuran

Oleh : Asep Saefuddin, Pimpinan Majelis Zikir Al-Bahuri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ada banyak ayat Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW yang bisa kita baca untuk memastikan kalau Islam adalah Agama Kejujuran. Bagaimana tidak? 

Rasulullah SAW sendiri digelari oleh kaum Quraisy dengan gelar “al-Amin”, yang berarti orang yang jujur dan bisa dipercaya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Baginda Rasul adalah ucapan yang tidak pernah dibuat-dibuat, menyalahi fakta apalagi fitnah.

Baca Juga

 Begitu juga, setiap tingkah laku yang diperlihatkan Nabi Muhammad SAW, adalah tingkah laku yang mewakili yang sesuai dengan apa yang diucapkan, sekaligus mencerminkan sebuah karakter yang memegang erat prinsip-prinsip kebenaran.

Hal itu misalnya terlihat dari dalam diri Rasulullah SAW sewaktu beliau pergi untuk menjajakan barang dagangan milik Khadijah binti Khuwaylid. 

 

Dalam kesaksian seorang pembantu yang dikirim khusus oleh Khadijah untuk memata-matai Nabi Muhammad SAW, beliau adalah sosok pedagang yang tidak pernah melebihkan barang-barang dagangannya. 

Yang cacat dibilang cacat, yang bagus dibilang bagus; tanpa dilebih-lebihkan. Begitu halnya dengan harga. Nabi tidak mematok harga yang terlampau tinggi kepada para pembelinya dan berbohong terkait modal pembelian. 

Dengan kejujurannya, tak heran kalau Nabi Muhammad SAW tidak membutuhkan waktu lama untuk menjual seluruh barang dagangan yang beliau bawa dari Mekkah.

Setali tiga uang dengan apa yang bisa kita teladani dari Nabi Muhammad SAW, Alquran juga menegaskan nilai-nilai kejujuran tersebut. Dalam Surat Al Ahzab ayat 70-71, Allah SWT berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71(

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” 

Baca juga: Perang Mahadahsyat akan Terjadi Jelang Turunnya Nabi Isa Pertanda Kiamat Besar?

Dalam ayat tersebut, sangat jelas dan terpampang nyata, kalau Allah SWT memerintahkan hambanya untuk beriman, bertakwa dan jujur dalam berbicara. Ayat di atas juga memperlihatkan kalau perintah untuk berkata jujur disandingkan dengan perintah untuk beriman dan bertakwa.

Artinya apa? Muatan perintah dari Islam agar kaum muslimin selalu berkata dan bersikap jujur, sama dengan muatan perintah untuk beriman dan bertakwa itu sendiri. Iman adalah aspek keyakinan individual, dan berkata jujur adalah dampak serta sikap yang lahir dari keimanan itu sendiri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement