Kamis 23 Feb 2023 21:41 WIB

7 Tokoh Nahdlatul Ulama Masuk Daftar 500 Tokoh Muslim Berpengaruh di Dunia

Ketum PB Nahdlatul Ulama menempati peringkat ke-19

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf menghadiri acara Simposium Satu Abad NU yang digelar PAN di Hotel Sheraton, Surabaya, Sabtu (18/2).
Foto: Republika/Dadang Kurnia
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf menghadiri acara Simposium Satu Abad NU yang digelar PAN di Hotel Sheraton, Surabaya, Sabtu (18/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) kembali merilis daftar 500 Muslim paling berpengaruh Di Dunia 2023. Nama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulam BNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menempati peringkat ke-19 dan menjadi salah satu dari tujuh Tokoh NU paling berpengaruh Di Dunia.

Dikutip dari akun instagram @nucreativemedia pada Kamis (23/2/2023), RISSC kembali merilis 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2023. Di antara deretan tokoh muslim dunia tersebut, terdapat  tujuh Tokoh NU.

Baca Juga

Selain Gus Yahya, di peringkat ke-30 ada nama Habib Lutfi bin Yahya yang merupakan Rais Aam JATMAN. Kemudian, Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahkyar berada di peringkat 50-500. Mantan Rais Aam PBNU yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin juga berada di peringkat 50-500.

Selanjutnya, nama KH Said Aqil Siraj yang kini menjabat sebagai Mustasyar PBNU berada di peringkat 50-500. Begitu juga dengan KH Ahmad Mustofa Bisri yang menjabat Mustasyar PBNU, juga berada di peringkat 50-500.

Tidak hanya tokoh NU laki-laki, ada juga tokoh perempuan yang masuk dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh Di Dunia 2023. Dia lah Ketua Umum Muslimat NU yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur. Dia juga berada di peringkat 50-500.

Dalam keterangannya @nucreativemedia juga menjelaskan, daftar tersebut berdasarkan The Muslim 500: 'The World's 500 Most Influential Muslims'. Itu merupakan survei tahunan yang dilakukan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre ( MABDA) yang berpusat di Amman, Yordania.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement