Rabu 04 Jan 2023 18:14 WIB

Shalat Jenazah dan Pendidikan Kematian

Shalat jenazah sering dilakukan ribuan jamaah di Masjid Suci.

Ilustrasi shalat jenazah.
Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal
Ilustrasi shalat jenazah.

Oleh: Ustaz M Towil Akhirudin, Peserta Daurah Bahasa Arab dan Guru Pesantren Darunnajah

 

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kegiatan delegasi Indonesia daurah bahasa arab ke-4 di Universitas Islam Madinah Arab Saudi tidak hanya pembelajaran saja. Yang terutama adalah berkesempatan beribadah di Masjidil Haram Makkah al-Mukarramah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Dari sekian banyak pengalaman beribadah, ada sebuah kesan dan pembelajaran yang sangat baik selama ibadah di tanah suci. Di mana setelah terlaksananya ibadah salat fardu lima waktu berjamaah di Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah, ada sebuah seruan bilal kepada para jamaah. Ash shalaatu 'alal mayyiti yarhamukumullah, atau kadang ash shalaatu 'alal mayyitati yarhamukumullah. Kadang pula terdengar ash shalaatu 'alal thifli yarhamukumullah. Adakalanya dalam jumlah banyak ash shalaatu 'alal amwati yarhamukumullah. Atau gabungan ashalaatu 'alal amwaati wal athfaali yarhamakumullah. Seruan tersebut adalah seruan melaksanakan salat jenazah. Dan bila terdengar seruan itu, maka secara otomatis hampir seluruh jamaah berdiri melaksanakan salat jenazah.

Ini tidak didapati di masjid-masjid lainnya sekitaran Masjidil Haram dan masjid Nabawi. Apalagi di Indonesia. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Atau masjid tidak digunakan untuk salat jenazah sama sekali. Hanya saja salat jenazah akan diadakan di masjid-masjid Indonesia bila keluarga ahli waris menghendaki si jenazah dishalatkan.

Sebagaimana diketahui bahwa shalat jenazah adalah salah satu dari 4 kewajiban muslim dalam pemulasaraan jenazah. Memandikan mayat, mengkafani, menyalatkan dan menguburkannya. Maka dalam hal ini, jamaah didominasi hanya melaksanakan perkara yang ketiga yaitu menyalatkan jenazah.

Berkah dari pelaksanaan salat jenazah adalah sebagaimana disebutkan di sebuah hadis;

Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyalatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Betapa luar biasa berkah dari pelaksanaan shalat jenazah. Satu qirath yang semisal satu gunung yang besar. Maka terbayang fadilah dan berkah shalat jenazah. Apalagi dilaksanakannya di Masjidil Haram dan masjid Nabawi. Keutamaan shalat di Masjidil Haram itu seratus ribu kali dari pada masjid lainnya. Keutamaan shalat di masjid Nabawi seribu kali dari pada masjid lainnya.

Tidak kalah utama, yang harus diambil hikmah dari pelaksanaan shalat jenazah di tiap shalat lima waktu ini adalah adanya pendidikan kematian bagi hamba Allah yang mau berpikir. Seperti sedang diingatkan oleh Allah sehari semalam lima kali. Betapa kematian itu adalah sesuatu yang haq (benar dan pasti terjadi) bagi setiap makhluk Allah. Hanya masalah waktu saja, kapan itu akan terjadi.

Terdapat tiga ayat Al-Qur'an di surat yang berbeda, yang menjelaskan, bahwa setiap yang bernyawa akan mati. Ali Imran ayat 185, Al Anbiya ayat 35, dan Al Ankabut ayat 85. Artinya bahwa kematian adalah sesuatu yang melekat pada tiap makhluk yang bernyawa. Pasti terjadi.

Bila tiba ajal bagi si makhluk, maka tidak ada satu pun yang dapat menghindar. Di manapun. Kapanpun. Berada terang-terang di tengah lapangan, akan bertemu. Bersembunyi di gua yang pekat dan seorang diri, akan bertemu. Berada di lemari besi anti peluru dan anti gempa sekalipun, akan bertemu. Orang baik maupun orang tidak baik, akan bertemu. Tua atau muda, akan bertemu. Pria atau perempuan, akan bertemu.

Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al Jumuah ayat 8 disebutkan;

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Maka benarlah bila dikatakan كفى بالموت واعظا, cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Pemberi nasihat adalah pendidik. Maka manusia yang insaf akan merasa terdidik dengan hadirnya kematian. Terdidik dengan hadirnya shalat jenazah. Dan itulah pendidikan yang Allah hadirkan bagi makhluknya untuk dapat merenungi dan mengambil hikmah. Juga dalam rangka peningkatan ketakwaan kepada Allah. Allahu a'lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement