Rabu 14 Dec 2022 03:51 WIB

MAJT Berangkatkan Dua Imam ke Amsterdam

MAJT terlebih dulu menyeleksi dan memberikan pendidikan imam.

Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha berjamaah di Masjid Agung Jawa Tengah dengan kapasitas saf sekitar 20 ribu jamaah di Semarang, Jawa Tengah, Ahad (10/7/2022). Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijah 1443 pada Minggu (10/7/2022).
Foto: ANTARA/Aji Styawan
Umat Islam melaksanakan Shalat Idul Adha berjamaah di Masjid Agung Jawa Tengah dengan kapasitas saf sekitar 20 ribu jamaah di Semarang, Jawa Tengah, Ahad (10/7/2022). Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijah 1443 pada Minggu (10/7/2022).

REPUBLIKA.CO.ID,  Pelaksana Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) segera memberangkatkan dua delegasinya untuk menjadi imam shalat selama Ramadhan 1444 Hijriah, shalat rawatib, serta mengisi berbagai pengajian di Masjid Al Ikhlas, Amsterdam, Belanda.

" Hari ini kami menerima kedatangan tokoh Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Budi Santoso membahas misi pemberangkatan delegasi MAJT yang akan menjadi imam shalat selama Ramadan 1444 Hijriah," kata Ketua PP MAJT Profesor Kiai Haji Noor Achmad melalui keterangan tertulisnya, Selasa (13/12/2022).

Baca Juga

Menurut dia, pemberangkatan delegasi itu merupakan bagian dari kerja sama antara PP MAJT dan PPME yang sudah berjalan selama 10 tahun. Ia mengungkapkan, PPME memberi kepercayaan hanya kepada PP MAJT sebagai bagian kerja sama internasional, mengingat reputasi MAJT yang menjadi pusat rujukan dan pengembangan Islam moderat dunia.

" Sebelum pemberangkatan, MAJT terlebih dulu menyeleksi dan memberikan pendidikan, serta pelatihan terkait tugas yang bakal mereka emban selama berada di Negeri Kincir Angin," ujarnya.

 

Para delegasi dibebani tugas MAJT untuk memperkenalkan berbagai kitab karya para ulama nusantara kepada masyarakat Eropa dalam forum pengajian, terutama kepada jamaah Masjid Al-Ikhlas, Amsterdam, yang sebagian besar merupakan umat Muslim Indonesia.

Selama satu bulan penuh, mereka diharapkan bisa menyosialisasikan kitab-kitab tersebut untuk membuka khazanah tentang peran ulama nusantara dalam pengembangan keilmuan Islam yang moderat,

Oleh karena itu, seleksi dan diklat kepada calon imam yang akan ke Amsterdam menjadi penting karena tidak hanya bacaan Alquran yang baik, hafal minimal tujuh juz, memiliki suara yang bagus, menguasai fiqih, serta juga mahir berorasi dan punya daya analogi yang kritis.

Noor Achmad yang juga Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia itu memandang pentingnya kerja sama PPME diperluas seperti membentuk Baznas di Kota Amsterdam atau unit pengumpul zakat (UPZ) di Masjid Al Ikhlas Amsterdam.

Selain itu, dirinya juga mengingatkan pentingnya kerja sama tersebut sebagai momentum strategis MAJT untuk mengembangkan nilai-nilai Islam Wasathiyah atau Islam moderat sebagai penjabaran dari Islam Rahmatan Lilalamin.

Sementara itu, Budi Santoso selaku senior PPME sekaligus Takmir Masjid Al-Ikhlas, Amsterdam, menegaskan perspektif keislaman yang moderat itu selaras dengan kebutuhan jemaah Islam di Amsterdam yang tidak menghendaki paham radikal.

"Sentuhan Islam Wasathiyah sangat dinanti di Amsterdam, yang jemaahnya berjumlah ribuan, termasuk dari Suriname, Asia Tenggara, Maroko, dan lainnya, maka dalam hal ini PPME hanya mempercayai PP MAJT untuk mengirim delegasi imam shalat dan pengajian-pengajian," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement