Jumat 18 Nov 2022 22:52 WIB

Catatan Prof Hamid Fahmy Zarkasyi Terkait Istilah Wasathiyah Islam

Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menilai ada kesalahpahaman terkait wasathiyah

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menilai ada kesalahpahaman terkait wasathiyah
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menilai ada kesalahpahaman terkait wasathiyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Guru besar filsafat Islam di Universitas Darussalam Gontor, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi mengungkapkan adanya kesalahpahaman terhadap istilah wasthiyah. 

Hal ini disampaikan Prof Hamid dalam forum yang diselenggarakan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Cheng HO Multi Culture Education Trust, NGO di Kuala Lumpur. Mereka bersinergi mengadakan The 8th World Peace Forum (WPF) pada 17-18 November di Surakarta, Jawa Tengah.

Baca Juga

“Ada kesalahpahaman terhadap konsep keumatan yang merupakan ciri dari umat Islam yaitu istilah wasathiyah,” kata Prof Hamid dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Jumat (18/11/2022).

Dia menjelaskan, istilah tersebut selama ini dipahami hanya sebagai moderat yang asal katanya sangat berbau Barat, yang bisa berbentuk pluralisme dan multikulturalisme. 

 

Selain itu, menurut dia, istilah wasathiyah juga hanya dipahami sebagai toleransi yang berhubungan dengan masyarakat non Muslim.

“Padahal konsep wasathiyah itu sangat luas sekali menyangkut berbagai aspek keberagamaan Islam,” jelas putra kesembilan pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor KH Imam Zarkasyi (1910-1985) ini.

Dalam forum R20, Prof Hamid juga mengungkapkan adanya kesalahpahaman dalam dalam diskursus tentang peace (damai) yang datang dari pengamat dan dari umat Islam sendiri. Karena, menurut dia,  hal tersebut harus dikoreksi.

Pertama, menurut dia, peace selalu dikaitkan dengan perang dalam Islam, dan Barat tidak bisa melupakan sejarah Perang Salib dengan umat Islam. Akhirnya, peace dikaitkan dengan “jihad” atau holly war.  

Kedua, lanjut dia, adanya kesalahpahaman para aktifis Muslim yang berjuang dalam Islam hanya dalam konteks jihad fisik ketika mereka menghadapi tantangan pemikiran, budaya, politik, pendidikan, dan sebagainya.  

“Dua kesalahpahaman ini memberi kontribusi bagi terciptanya Islamphobia. Padahal, perdamaian atau istilah damai itu adalah arti dari kata Islam. Maka kesalah fahaman ini harus di jelaskan ulang, supaya konsepnya jelas, sebelum direalisasikan kedalam kehidupan sosial,” paparnya.

Dengan adanya kesalahpaman tersebut, Prof Fahmi menyimpulkan bahwa semua konsep-konsep di atas harus dikaji lagi secara akademis, konseptual, filosofis dan teologis agar penafsiran yang menyimpang.

Dia pun meyakini bahwa teologi yang benar akan menghasilkan perilaku yang benar, dan kebenaran penafsirannya harus dilakukan oleh orang yang mempunyai otoritas dalam bidanganya. 

“Itu tugas kita sebagai seorang intelektual. Sebelum saya, Prof Desmon dari Australia (dalam Forum R20) juga berpendapat bahwa fraternity (brotherhood) dan peace harus di implementasikan dalam kehidupan sosial,” jelas Prof Hamid.  

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement