Rabu 02 Nov 2022 14:07 WIB

Kunjungan Pertama Paus Fransiskus ke Bahrain Guna Pererat Hubungan dengan Islam

Selama masa kepausannya, dia telah menjangkau komunitas Muslim sebagai prioritasnya.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah
Paus Fransiskus merayakan misa pada kesempatan kongres Ekaristi nasional ke-27, di Matera, Italia selatan, Minggu, 25 September 2022. Kunjungan Pertama Paus Fransiskus ke Bahrain Guna Pererat Hubungan dengan Islam
Foto: AP Photo/Andrew Medichini
Paus Fransiskus merayakan misa pada kesempatan kongres Ekaristi nasional ke-27, di Matera, Italia selatan, Minggu, 25 September 2022. Kunjungan Pertama Paus Fransiskus ke Bahrain Guna Pererat Hubungan dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, MANAMAH -- Paus Fransiskus (85 tahun) menjadi paus pertama dalam sejarah yang mengunjungi Bahrain dalam perjalanan internasional ke-39 kepausan Fransiskus. Kunjungan yang memakan waktu dari Kamis hingga Ahad, diharapkan untuk mempererat hubungan dengan Islam.

Selama masa kepausannya, dia telah menjangkau komunitas Muslim sebagai prioritasnya. Sebelumnya, dia pernah mengunjungi negara-negara Timur Tengah, termasuk Mesir pada 2017 dan Irak pada 2021. Dia menjanjikan dialog antaragama dengan ulama Muslim terkemuka.

Baca Juga

Pada Jumat, Fransiskus berencana bertemu dengan otoritas tertinggi Islam Sunni imam besar masjid Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb di Sakhir Palace. Pada Februari 2019, kedua pemimpin agama itu menandatangani dokumen bersama di Abu Dhabi perihal koeksistensi antaragama Kristen dan Muslim.

Pada Jumat nanti, Paus juga akan memimpin doa ekumenis di Katedral Our Lady of Arabia di Awali. Katedral itu dapat menampung lebih dari 2.000 jemaat. Ada sekitar 80 ribu umat Katolik Bahrain, terutama pekerja dari Asia selatan, termasuk India dan Filipina.

Sama seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dianggap sebagai negara Arab yang relatif lebih toleran dibandingkan daerah lain yang tidak mengakui kebebasan beragama dan melarang tempat ibadah untuk non-Muslim. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) terus mengutip diskriminasi, penindasan dan pelecehan di Bahrain yang dilakukan oleh para elite Sunni terhadap Syiah, tindakan keras terhadap tokoh dan aktivis oposisi serta pelanggaran lain.

Lembaga nirlaba Amerika untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Bahrain menulis pada bulan ini bahwa undang-undang kebebasan beragama di negara itu hanya sebatas hitam di atas putih dan dimanfaatkan untuk menjalin persahabatan dengan dunia.

Kelompok itu mendesak paus menarik perhatian pada diskriminasi yang merajalela terhadap Syiah Bahrain. Pada Senin, Human Rights Watch mengeluarkan laporan yang mendokumentasikan marjinalisasi yang ditargetkan terhadap tokoh-tokoh oposisi Bahrain dalam satu dekade sejak protes pro-demokrasi meletus pada 2011.

Dilansir RFI, Rabu (2/11/2022), agenda Paus selanjutnya, yaitu merayakan misa di sebuah stadion kota terbesar kedua di Bahrain, Riffa di hadapan 28 ribu umat pada Sabtu. “Kami senang melihat banyak orang Kristen dari wilayah itu,” kata pendeta Charbel Fayad.

Paus akan mengakhiri perjalanannya pada Ahad di Manama dengan memimpin pertemuan doa bersama pendeta Katolik. Di antara negara mayoritas Muslim yang pernah dia kunjungi selama masa kepausannya adalah Yordania, Turki, Bosnia-Herzegovina, Mesir, Bangladesh, Maroko, Irak dan yang terbaru pada September, Kazakstan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement