Rabu 20 Jul 2022 17:37 WIB

Dorong Kemandirian Santri Berwirausaha, Baznas Gelar Pelatihan Santripreneur

Santripreneur menyasar para alumni santri yang datang dari keluarga mustahik.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggelar pembukaan pelatihan Program Santripreneur.
Foto: Baznas
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggelar pembukaan pelatihan Program Santripreneur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggelar pembukaan pelatihan Program Santripreneur demi mendorong kemandirian para santri dalam berwirausaha. Pelatihan digelar secara daring dan disiarkan di kanal YouTube Baznas TV pada Rabu (20/7/2022). 

Program Baznas Santripreneur adalah sebuah program pembinaan, pendampingan, dan pelatihan bisnis serta bantuan modal usaha yang ditujukan kepada para alumni santri. Tujuannya adalah untuk menguatkan dan meningkatkan kesejahteraan para alumni santri dalam pengembangan kewirausahaan UMKM berupa bantuan modal usaha, pelatihan, dan pendampingan.

Baca Juga

Santripreneur menyasar para alumni santri yang datang dari keluarga mustahik, yang diharapkan dapat berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Penerima manfaat program Baznas Santripreneur adalah sebanyak 5.000 orang dan 281 di antaranya mengikuti pelatihan yang terbagi dalam 3 batch. 

Pelatihan batch 1 yang diikuti 100 penerima manfaat digelar pada 20 Juli, kemudian batch 2 pelatihan diikuti 100 penerima manfaat rencananya digelar pada 28 Juli. Batch 3 diikuti 81 penerima manfaat diadakan pada 3 Agustus. Setiap batch dilaksanakan dalam satu hari dengan tiga materi unggulan dalam program Santripreneur dan satu kisah sukses dari lulusan santri yang berhasil.

Pelatihan batch 1 diisi sejumlah pemateri yakni Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Agus Setia Irawan; dosen pascasarjana dan pengusaha, Dirgantara Wicaksono; dosen entrepreneurship dan pengusaha, Muhammad Setiawan Koesmulyono; dan CEO dprint Communications, Khairul Basri.

Ketua Baznas KH Noor Achmad MA mengatakan Program Santripreneur merupakan salah satu upaya Baznas dalam mengangkat perekonomian santri dan keluarganya. Dengan bekal berwirausaha, para alumni santri diharapkan dapat menjadi role model kesuksesan dan menjadi contoh baik bagi orang sekitar. 

"Baznas mempunyai keinginan agar para santri dapat menjadi muzaki di kemudian hari, agar para santri pada akhirnya akan menguasai perekonomian yang ada di Indonesia dan dunia. Harapan kita semuanya dengan santripreneur tersebut akan menjadikan para santri kreatif dalam menjalankan usaha sehingga menuju arah kesuksesan dan bermanfaat bagi sekitar," kata Noor.

Dalam Program Santripreneur ini, potensi pesantren yang begitu besar dapat menjadi faktor pendukung keberhasilan usaha para santri. "Pesantren adalah pasar yang luar biasa dan memiliki potensi yang besar. Besar harapan kami agar semua pihak yang terlibat dapat memanfaatkan momentum emas ini untuk membangkitkan ekonomi umat," katanya.

"Proses transformasi mustahik menjadi muzaki menjadi tujuan utama Baznas yang memiliki fokus kuat dalam menyejahterakan umat. Semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud," kata Noor.

Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan mengatakan Program Santripreneur adalah bagian dari upaya Baznas dalam memberdayakan potensi dan social capital pesantren.

"Karena kalau dilihat dari jumlah pesantren di Indonesia kita punya 34.632 pesantren yang santrinya mencapai sekitar 4,7 juta. Ini adalah social capital yang akan diberdayakan oleh Baznas yang akan jadi penggerak ekonomi dan memunculkan inovator inovator berbasis pesantren," kata Saidah.

"Ini yang menjadi background, bonus demografi pesantren jadi social capital yang diberdayakan, dan akan menjadi potensi utama di dalam pemberdayaan ekonomi umat Islam di Indonesia," lanjut Saidah.

Baznas ingin menjadikan pesantren menjadi pusat pendayagunaan ekonomi yang menyasar pada tiga pilar. Pertama, Baznas ingin program santripreneur ini bisa memperkuat kelembagaan pesantren. "Jadi istilah kami itu pesantren menjadi simpul kesejahteraan baru. Kita ingin menciptakan pesantren akan menjadi penguatan atau simpul ekonomi umat," katanya.

Kemudian yang selanjutnya adalah pilar sosial yakni memperkuat lingkungan sekitar. Para santri yang sudah berdaya akan menjadi simpul atau orang-orang yang bisa memberdayakan sekitarnya.

"Jadi jika santri berdaya bukan berdaya untuk dirinya saja, tetapi juga memberikan kebermanfaatan untuk sekitar. Dan pilar ketiga, kami ingin program ini bisa memperkuat membangun kemandirian santri di lingkungannya. Kita perkuat SDM santrinya agar membangun kemandirian para santri dalam berwirausaha," kata Saidah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement