Kamis 23 Jun 2022 11:31 WIB

Aman dari Penularan PMK, Dokter Hewan WIF Lakukan Pemeriksaan dan Berbagi Tips Pengolahan

WIF adalah program pemberdayaan para peternak Indonesia agar lebih profesional

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD), tak bisa dipandang sebelah mata. Mudah dan cepatnya virus ini menyebar dan menular tak hanya menyebabkan hewan sakit, tapi juga kematian.
Foto: istimewa
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD), tak bisa dipandang sebelah mata. Mudah dan cepatnya virus ini menyebar dan menular tak hanya menyebabkan hewan sakit, tapi juga kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD), tak bisa dipandang sebelah mata. Mudah dan cepatnya virus ini menyebar dan menular tak hanya menyebabkan hewan sakit, tapi juga kematian.

Dari channel Youtube Kementerian Pertanian (Kementan) per hari Senin 13 Juni 2022, diwakili Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menjelaskan wabah PMK sudah menyebar ke 180 kabupaten di 18 Provinsi dengan jumlah kematian sapi mencapai 695 ekor.

Baca Juga

Dengan rincian jumlah hewan yang sakit atau terinfeksi PMK terdata sebanyak 150.630 ekor. Lalu, hewan ternak yang sudah sembuh dari PMK sebanyak 39.887 ekor, serta yang masuk dalam kategori potong bersyarat sebanyak 893 ekor.

Melihat berbahayanya virus ini, tim Waqf Integrated Farm (WIF) pun melakukan ikhitar pencegahan melalui instruksi drh. Taryat Ali Nursidik.

Menurut pria yang akrab disapa Abah Tariyat ini mengatakan selain tak lagi menerima kiriman domba untuk penggemukan, dirinya juga mengingatkan tim WIF untuk tidak menerima kunjungan dari luar.

“Virus PMK ini mudah sekali menyebarnya, karena itu untuk memutus mata rantai penyebaran PMK kami menolak kunjungan dari pihak luar. Mau itu peternak, mahasiswa atau lainnya. Meski tidak berbahaya untuk manusia karena virus PMK ini hanya menyerang hewan berlambung empat dan berkuku dua, tapi virus ini bisa terbawa oleh manusia. Karena itu untuk kunjungan, sementara ini tidak diperbolehkan,” jelas Abah Tariyat.

Pun kandang WIF, lanjut Abah Tariyat, tidak lagi menerima kiriman domba atau kambing penggemukan di WIF pada bulan April.“Kambing atau domba untuk penggemukan itu masuk ke WIF di bulan April sebelum Idul Fitri. Pada saat itu, belum ada kabar ada virus PMK. Insya Allah, hewan di kandang WIF terjaga dari virus PMK.”

Untuk menjaga kualitas kambing qurban di WIF, hewan-hewan ini juga diperiksa secara berkala untuk memantau kondisi hewan.“Alhamdulillah, hewan yang sedang Abah periksa ini sehat. Tau dari mana sehat? Setelah di cek suhu ternyata normal. Suhu kambing itu normalnya di 38,5°C - 40°C. Lalu matanya bersih dan mulutnya tidak ada luka. Jika kambing sakit, matanya akan berkabut dan mulutnya ada luka-luka seperti sariawan.

“Kemudian jika diraba tubuhnya tidak ada limfoglandula yang menonjol berarti sehat. Sebab limfoglandula merupakan sistem pertahanan dalam tubuh. Jika menonjol, berarti hewan sedang sakit.

Lalu kita dengarkan melalui stetoskop. Jantung dan lambungnya sehat. Karena jantungnya tidak berdetak terlalu cepat dan di lambungnya ada suara pergerakan rumput. Tanda sehat juga bisa dilihat dari gerakan mulut yang mengunyah tapi tidak sedang mengunyah rumput. Di anus juga tidak ada tanda mencret. Dan kuku kaki sehat, tidak bernanah,” tutur Abah sambil memeriksa kambing.

Menurutnya hal yang paling menonjol saat pemeriksaan hewan adalah mulut dan kuku, jika mulut dan kuku sehat, maka tidak terindikasi PMK. “Sesuai namanya, PMK, jika hewan sudah tertular maka dapat dilihat pada mulut dan kukunya.”

Karena itu, para pekurban yang hendak berkurban di Green Kurban tak perlu khawatir. Selain memantau kesehatan hewan dan kebersihan kandang dengan rutin melakukan disinfeksi, hewan yang akan didistribusikan akan dilengkapi dengan surat keterangan sehat dari dinas terkait.“Ini merupakan ikhtiar kami untuk menjamin kesehatan hewan yang didistribusikan dari kandang WIF,” tegas Abah.

Dan tak hanya pencegahan, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga turut membagi tips dalam pengolahan daging hewan kurban.“Nanti setelah pemotongan saat Idul Adha, daging hewan kurban tak perlu dicuci tapi langsung direbus di suhu 70°C selama 30 menit.”

Abah Tariyat melanjutkan, saat pemisahan daging dan tulang hewan kurban, usahakan limfoglandula yang ada di daging dikeluarkan. Sebab di situ pertahanan tubuh hewan dari virus. Jadi harus dibuang. “Virus ini memang tidak berbahaya bagi manusia, namun alangkah baiknya jika kita melakukan pencegahan agar hal yang tidak diinginkan, tidak terjadi,” tukasnya.

Waqf Integrated Farm (WIF) adalah program pemberdayaan para peternak Indonesia agar lebih profesional dengan memaksimalkan dana wakaf. Melalui WIF, Sinergi Foundation berikhtiar menghasilkan domba unggulan yang sehat dan berkualitas untuk program Green Kurban.

WIF melakukan banyak aktivitas, mulai dari kandang pembibitan hingga penggemukan. Seluruh prosesnya dilakukan dengan organik. WIF menghindari pakan olahan pabrik untuk kambing-kambing yang dipelihara. Harapannya, dengan perawatan maksimal, hewan ternak tumbuh lebih sehat dan daging yang dihasilkan pun lebih padat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement