Kamis 10 Feb 2022 19:06 WIB

Kemenag Dorong Percepatan Layanan Digital di Perpustakaan Masjid

Digitalisasi layanan selain mempermudah, juga harganya yang terjangkau.

Kementerian Agama (Kemenag) mendorong dilakukannya percepatan layanan digital di perpustakaan masjid. Hal itu disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Adib saat membuka Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Islam di Hotel Horison, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (9/2).
Foto: istimewa
Kementerian Agama (Kemenag) mendorong dilakukannya percepatan layanan digital di perpustakaan masjid. Hal itu disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Adib saat membuka Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Islam di Hotel Horison, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (9/2).

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA--Kementerian Agama (Kemenag) mendorong dilakukannya percepatan layanan digital di perpustakaan masjid. Hal itu disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Adib saat membuka Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Islam di Hotel Horison, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (9/2).

“Sekarang sudah era digital, maka perpustakaan masjid harus lebih efektif dalam menyediakan akses perpustakaan digital. Digitalisasi layanan selain mempermudah, juga harganya yang terjangkau, asal memiliki jaringan, maka jemaah bisa mengakses perpustakaan digital di masjid,” kata Adib yang memberikan sambutan lewat daring melalui Zoom dari Jakarta.

Baca Juga

Menurut Adib, dengan adanya perpustakaan masjid berbasis digital, maka masyarakat akan mudah dalam mengakses literatur-literatur keagamaan yang tidak hanya tersedia di perpustakaan masjid, tetapi juga yang terdapat di perpustakaan daerah, bahkan perpustakaan nasional.

Adib berharap, kemudahan akses bagi masyarakat ini bisa mengembalikan kejayaan masjid sebagai pusat peradaban. Ia mencontohkan, pada zaman keemasan Islam, keberadaan perpustakaan masjid seperti Baitul Hikmah menjadi lembaga pendidikan yang mencerahkan, serta melahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim mencapai puncak kejayaan.

“Saya kira masjid-masjid besar di Indonesia, termasuk masjid besar di Kalimantan Timur seperti Masjid Islamic Center Samarinda itu bisa dibuat model perpustakaannya yang bisa mengakses secara digital literatur-literatur keislaman yang tidak hanya tersedia di masjid, tetapi secara nasional dan global,” kata Adib.

Menurut Adib, percepatan layanan digital pada perpustakaan masjid perlu diupayakan secara maksimal. Memang, kata dia, salah satu kendala dari upaya percepatan layanan digital ini adalah konsistensi. Hal ini terjadi karena berkaitan dengan manajemen masjid. “Tidak mungkin perpustakaan masjid akan berjalan tanpa adanya pemberdayaan manajemen DKM yang baik,” katanya.

Terpisah, Koordinator Fungsi Kepustakaan Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag, Abdullah Alkholis menambahkan, Kemenag telah membuka bantuan bagi perpustakaan masjid. Bantuan tersebut sudah dilakukan sejak tahun lalu. Untuk tahun 2022, Kemenag membuka bantuan bagi 38 perpustakaan masjid yang pengajuannya sudah dibuka sejak 17 Januari 2022 lalu.

Menurut Alkholis, bantuan perpustakaan masjid itu tidak hanya berbentuk dana, tetapi juga dalam bentuk buku fisik maupun digital. Termasuk, kata dia, peningkatan sarana prasarana digital. “Kita juga telah menyediakan buku-buku secara daring yang bisa diakses di Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam atau ELIPSKI,” kata Alkholis.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement